Rabu, 19 Oktober 2016

Volume 1 Chapter 1 - Part 4

Chapter 1 Bukankah Kau sudah Mati?
Part 4



[wow! Chabudai*. ternyata masih ada di Jepang]
ketika koremitsu, Koharu, dan kakek sedang makan malam di ruang makan, Hikaru terlihat seperti seorang pangeran yang memasuki rumah orang biasa dengan sangat penasaran melayang di sekeliling rumah. Dia akan berseru kapanpun dia melihat sesuatu, dan akan mengamati dengan mata terbuka lebar, tanpa menoleh dan memberikan senyum.
[Ah, Ubinya sudah masak! itu telihat sangat lezat ~sangat nikmat. Itu terlihat memiliki sentuhan keibuan. aku ingin mencobanya juga~]
Koremitsu, yang mulai memegang sumpit untuk dibasahi dengan lidahnya, merasa selera makannya hilang dengan tatapan mata memelas dari tengah meja.
Bukankah kau hantu? kau tidak bisa makan.
 Koremitsu ingin bicara, tapi berhenti setelah melihat Koharu dan kakeknya melanjutkan makan mereka dengan ekspresi seperti biasanya.
Sepertinya kakek dan Koharu benar-benar tidak bisa melihatnya.
Bukti-bukti yang ada tentang situasinya saat ini menyebabkan sakit kepala pada Koremitsu.
[Hei, Lembaran Kaligrafi ini ditulis dengan sangat ahli. Siapa yang menulisnya?]
Kakek
[Apa maksud dari dekorasi Rakun ini?]
Siapa yang tahu?
[Ah, pintu geser ini dilapisi dengan Washi sejenis kertas jepang. Bisa digunakan untuk kesenian apapun. Ah, disini juga! apa kau membuatnya sendiri? kau pasti sangat terampil.]
Jangan berteriak untuk hal-hal sepele.
Memegang sumpitnya sekali lagi, dia menyeringai ke arah Hikaru.
[Koremitsu, apa yang kau lihat dari tadi?]
Koharu bertanya bukan untuk mendapat jawaban tapi untuk memberi peringatan pada Koremitsu. Kakek Koremitsu, yang terlahir sebelum masa perang, juga menasihatinya.
[Jangan menyisakan nasi. kau akan mendapat hukuman dewa.]
Koremitsu merinding di lehernya.
Hikaru sementara itu sedang mengagumi pintu geser dengan sangat terpesona, [ Ah, ini dilapisi dengan chiyogami...]
Koremitsu berpikir ini semua adalah salah Hikaru.
[Akagi-san, boneka Kokeshi! boneka-boneka Kokeshi tersusun rapi. Apa kau yang mengoleksinya? mereka sangat imut! mata yang sipit sungguh bentuk dari kecantikan Jepang]
Hikaru sekali lagi bergumam dengan sangat semangat.
Diam kau! Kau sudah mati!
Koremitsu berhenti bicara dan menahan kekesalannya sekali lagi pada hari itu.
Dia akan kena masalah jika Hikaru berdiam di ruang rumahnya sebagai hantu penasaran yang mencari dendam.
Selain itu, dia merasa perlu mengalihkan Hikaru dari pandangannya, membuat Koharu dan kakeknya lebih salah paham padanya.
Koremitsu biasanya makan lebih pada makan malam, tapi kemewahan itu harus dilupakan sejenak.
[Aku pergi dulu]
Dia bergumam lirih, [kenapa bertingkah sok keren hanya untuk kembali ke kamarmu sendiri? kau ingin menghajar Yakuza atau semacamnya?]
Koharu membentaknya.
[Pertama-tama, duduk dulu sebelum kita mulai beres-beres]
Koremtsu kembali ke kamarnya, menutup pintu, membentangkan alas duduk di tatami. dan menyuruh Hikaru mendekat.
[Akagi-san, aku senang kau menyuruhku duduk juga, tapi kurasa tidak ada pengaruhnya memberiku alas duduk . meski begitu aku tahu maksudmu]
Hikaru menekuk lututnya diatas alas duduk sementara dia melayang di udara.
Koremitsu mulai berbicara.
[SIAPA YANG MENGUNDANGMU DISINI!? BULU KUDUKKU BERDIRI KETIKA KAU MELAYANG DI DEPANKU. SETIDAKNYA TARUH KAKIMU - tidak, tunggu, lutut di lantai - TERSERAH, JIKA KAU INGIN AKU MENDENGARMU, KAU SEBAIKNYA BERSUNGGUH-SUNGGUH MEMOHON PADAKU]
Wajah Koremitsu berubah warna ketika dia berteriak.
[Ok, aku paham]
Tanpa diduga, Hikaru berlutut di lantai dan merapatkan lututnya untuk duduk dengan benar di alas duduk.
Bahkan, dia duduk "Seiza", dan punggungnya terlihat lebih tegap daripada Koremitsu, yang duduk dengan punggung yang membungkuk. Itu sangat sempurna selain dari fakta bahwa alas duduknya tidak tenggelam sama sekali.
[Apa ini sudah baik? Apa kau mau mendengarku sekarang?]
Hikaru menunjukkan senyum lembut andalannya.
Bagaimana aku mengatakannya? Orang ini.... bisa-bisa mengacaukan ritmeku/hidupku.
Koremitsu berpikir sambil menyilangkan kakinya di lantai.
[Baik, Aku akan mendengarkanmu sekarang]
[Jika memungkinkan, aku harap kau bisa membantuku juga. Sebenarnya, ada seorang gadis yang aku tidak bisa kulupakan dari hatiku. Ulang tahunnya sebentar lagi, dan pada hari terakhir saat Golden Week, aku mengirim surat yang ditempeli dengan Lilak ke rumahnya.]
Kenapa harus menggunakan tangkai tanaman untuk mengikat surat? Tidak bisakah kau mengiriminya sebuah SMS?
Koremitsu terlihat bingung.
Kemudian, mata dan bibir Hikaru seperti memancarkan kelembutan.
Pada surat itu, dia menulis,
[Ini adalah hadiah pertama. Aku menyiapkan 6 hadiah lain untuk ulang tahunmu. Tunggulah pada saatnya]
Apa wanita sangat serakah sampai-sampai tidak puas bila tidak mendapatkan 7 hadiah? Bukankah kau harus menghabiskan banyak uang jika kau ingin memberikan 7 hadiah untuk setiap ulang tahun? Sebelum membicarakan itu, bagaimana bisa kau memikirkan 7 hadiah apa yang ingin kau berikan?
Bagi Koremitsu, memberi hadiah pada wanita adalah konsep dari dimensi lain.
Tapi Hikaru menunjukkan ekspresi yang melankolis di matanya.
[Seperti yang kau lihat, aku sudah mati, dan aku tidak bisa memenuhi janjiku. maukah kau menggantikanku menyerahkan hadiahku padanya?]
[Jadi, kau memintaku melakukan sesuatu yang berkaitan dengan perempuan]
[Ya, bagiku, dia seorang gadis yang sangat penting]
Alis mata Hikaru naik ketika dia menunjukkan pesonanya yang lembut dan manis. kontas dengan Koremitsu yang menunjukkan ekspresi tidak senang.
[Aku tidak mau melakukannya]
[Eh....!? tu-tunggu, apa kau tidak menolakku terlalu cepat, Akagi-san?]
Ini untuk pertama kalinya bagi Hikaru, yang terlihat sangat santai bahkan setelah menjadi hantu, menunjukkan tanda kebimbangan.
Koremitsu tetap teguh, [aku tidak akan membicarakan permohonan terkait dengan wanita]
[Kenapa!?]
[kakek berkata padaku jangan dekat-dekat dengan para gadis]
[Apa artinya itu?]
[20 tahun lalu, istrinya - nenekku- berkata bahwa dia ingin memulai hidup baru, dan meninggalkan surat cerai sebelum dia pergi.]
Semenjak apa yang terjadi padanya, kakeknya selalu bergumam [ Wanita semuanya sama saja] dan dia selalu bersilang pendapat dengan bibi Koremitsu, Koharu yang telah bercerai yang selalu mengatakan sesuatu yang sama [Pria semuanya sama saja]. Menurut Koharu, ini sudah bisa ditebak bahwa nenek Koremitsu tidak bisa menghadapi kakeknya.
[Ini....ini pasti sebuah kejutan besar bagi kakekmu, tapi nenekmu tidak bisa disebut mewakili seluruh wanita]
[Ketika aku kelas 1 SD, wanita yang kupanggil Ibuku meninggalkan Ayahku dan diriku, dan lari dengan laki-laki lain]
[Uw!]
Hikaru tiba-tiba tidak bisa berkata apa-apa.
[Dan juga, Laki-laki yang bersamanya adalah wali kelasku sendiri]
[Ehh..]
[Dan lalu, setengah tahun kemudian, Ayahku meninggal karena serangan jantung]
[Be-begitu rupanya. kau pasti sangat tegar. A..Ayahmu pasti menderita mengalami sebuah tragedi juga... tapi pacarku tidak akan memberiku surat cerai atau lari dengan laki-laki lain. Ini tidak seperti aku menyuruhmu berpacaran atau menikah dengannya. aku hanya ingin kau mengiriminya hadiah pada hari ulang tahunnya, dan kemudian aku bisa pergi ke surga dengan bahagia. Lihat, ini akan sangat merepotkan jika aku tetap menempel padamu setiap saat, khan?]
Arti tersembunyi dari kata-kata itu adalah bahwa Hikaru mengancam Koremitsu dengan akan selalu menghantuinya sebelum permintaannya dipenuhi. Hikaru terus menunjukkan ekspresi yang memelas.
[Kumohon...? ini adalah janji yang sangat penting. Aku tidak memiliki teman, jadi aku hanya bisa memintamu, Akagi-san]
[Kau mengatakan bahwa kau tidak memiliki teman? Teruslah mencoba kau menipuku. Bukankah kau seseorang yang sangat terkenal dalam pergaulan?]
Dia terlahir dengan penampilan yang mempesona, dan kepribadiannya sangat menyejukkan. Dia juga seorang "Pangeran" di sekolah, seseorang yang dikelilingi banyak penggemar. Bagi Koremitsu, ini sesuatu yang sangat menjengkelkan seseorang seperti dia bisa berkata mereka 'tidak memiliki teman'.
Bagaimana orang yang pandai bicara seperti dia mengerti rasa sakit ditinggal sendirian ketika guru menyuruh murid-muridnya “membentuk pasangan” pada saat kelas Olahraga atau kesenian.
Semua orang menjauh dariku seperti laba-laba ketika aku berjalan, menanyakan arah menuju ruang guru. Tak seorangpun yang bisa kuajak bicara ketika jam istirahat, aku kesulitan menghabiskan waktu istirahat 10 menit itu, dan aku hanya bisa menggunakan waktu itu untuk belajar. Bagaimana seorang tuan muda yang naif sepertimu mengerti rasa sakit terasingkan?
Meski begitu, Hikaru menurunkan bahunya sambil bergumam sedih.
[Memang benar… aku selalu populer diantara para gadis bahkan sejak aku masih TK, dan semua gadis di kelasku ingin menjadi pacarku. Pada saat pertemuan kelas, mereka berdiskusi, yang berkesimpulan “Hikaru untuk semua orang, tak seorangpun boleh berpacaran dengannya” dan semuanya setuju.]
…Apa dia mencoba pamer? Ngomong-ngomong, murid-murid SD memang menjengkelkan ketika menggunakan suara mayoritas untuk memutuskan sesuatu.
Lebih jauh Koremitsu mendengar, lebih jauh lagi bibirkan ditekuk.
[Tapi karena itu, semua laki-laki selalu menjauhiku]
Mendengar itu, telinga Koremitsu tiba-tiba terperanjat.
Kau….dijauhi?
[Sama saja ketika saat kelas Olahraga. Tak seorangpun mau berpasangan denganku]
Telinga Koremitsu terperanjat lagi.
[Sama saja ketika aku masuk SMP. Aku dipanggil oleh sekelompok anak laki-laki ke belakang gedung olahraga, mereka berkata bahwa aku merebut pacar mereka. Mereka mencari masalah denganku….menyebarkan rumor jelek sampai-sampai tak seorang laki-lakipun di kelas yang mau bicara padaku..]
Koremitsu membanyangkannya dan merasakan sakit di dadanya, seperti ada menusuknya.
Dia mengerti lebih dari siapapun rasa sakit diasingkan karena rumor yang tidak jelas.
Dia mengingat kembali bagaimana dia harus makan siang sendiri ketika masa istirahat, dia mengingat kembali bagaimana dia diam menggerakkan sumpitnya sementara mendengar canda ttawa dan percakapan teman-teman kelasnya. Dia mengingat kembali orang-orang hina yang sangat membosankan dan selalu mencorat-coret mejanya, memanggilnya dengan nama “Sam” dan “John” dan sebagainya.
Setiap kali dia mengingat itu, matanya terasa pedih.
Jadi begitu? Jadi orang ini mengerti rasa sakit itu?
Jadi dia selalu mengalami hari-hari yang buruk?
Dia ingin memenuhi sebuah janji pada seorang gadis yang tak bisa dia lepaskan dari hatinya, tapi dia tidak memiliki teman. Dia sangat kesepian sampai-sampai hanya bisa bergantung padaku.
Jadi begitu? Jadi begitu rupanya?
Ini sangat tak tertahankan, dasar sial.
[Ji….Jika begitu keadaannya…aku akan membantu mengantikanmu memberikan hadiah itu]
Koremitsu mengedipkan matanya dan menoleh kesamping dan mengatakan ini dengan tegannya.
Mendengar ini, Hikaru merasa puas dan berkata,
[Terima Kasih! Aku tahu kau akan membantuku, Akagi-san, sungguh-sungguh aku berterima kasih]
Kata-kata yang dipenuhi keanggunan dan kepercayaanini menyebabkan sesuatu yang panas di tenggorokannya.
[Aku akan pergi… ke toilet]
Dia mengangukkan kepalanya dan segera meninggalkan ruangan supaya tak seorangpun melihat air mata di kelopak matanya.
Dia membuka pintu toilet, menghapus air mata dengan jarinya, mendesah, melepas celana tidurnya sekaligus dengan celana dalamnya…
[!]
Tapi terlihat Hikaru dengan ekspresi meminta maaf melayang diatas langit-langit toilet.
[WOAH!? KENAPA KAU MENGIKUTIKU KESINI!? DAN KAU BAHKAN MELIHAT PUNYAKU! APA KAU SEORANG MESUM!?]
[Aku melihat keduanya depan dan belakang tadi ketika kau masuk kamar mandi]
Di wajah keterkejutan Koremitsu, Hikaru mendesah ringan dan menunjukkan ekspresi serius, berkata,
[Ada sesuatu yang tidak mengenakkan yang harus kusampaikan padamu]
Ap..Apa itu?
Koremitsu menahan napas sambil dia mendengarkan, dan Hikaru mencoba yang terbaik agar dia tidak terkejut dan dengan tenang menjelaskan.
[Sepertinya kemanapun kau pergi, aku akan ikut terbawa bersamamu. Jadi hiraukan saja aku dan lanjutkan]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar