Chapter 1 - Bukankah Kau sudah Mati?
Part 1
Uwaa... kenapa mereka semua
perempuan?
Koremitsu Akagi melihat
upacara pemakaman, tercengang.
Kombinasi dari blazer kelas
atas dan baju putih yang merupakan seragam sekolah Koremitsu, Akademi Heian.
Ada juga seragam lainnya, seperti setelan seragam sailor, rompi, blus
pendek, jaket dengan pita - sangat banyaknya sampai-sampai mengejutkan, para
gadis memakai semua jenis perlengkapan.
Tapi itu belum semua yang
dilihat oleh Koremitsu.
Ada mahasiswi universitas
dengan setelan pakaian hitam, berteriak dengan pilu.
[Hikaru! Hikaru!]
Seorang wanita yang berduka
berdiri disamping para siswa, membawa aura intelektual karena penampilannya
,dia menutup wajahnya dengan sapu tangan ketika bahunya gemetar tak terkendali.
Dibelakang wanita itu berdiri seorang wanita kaya yang berlinang air mata,
pandangannya menatatap ke bawah. Bersama dengan kerumunan seorang gadis muda
yang terlihat seperti siswa sekolah dasar, dan dia tanpa terkecuali dengan mata
yang bengkak, dipenuhi dengan air mata.
Koremitsu melihat papan
pengumuman sekolah untuk mengecek tanggal pemakaman sebelumnya. Meski begitu,
dia akhirnya menyesali karena telah datang.
Diantara para gadis yang
menangis berdiri seorang siswa SMA dengan rambut merah yang acak-acakkan,
punggungnya membungkuk, tatapan mata yang tajam dan berkerut, membuatnya
terlihat paling menonjol.
Mereka yang menghadiri
pemakaman sesekali melihat dengan curiga pada Koremitsu Akagi.
Bahkan para gadis yang
memakai seragam Akademi Heian gelisah, bertanya-tanya kenapa seorang siswa
tahun pertama yang punya reputasi buruk menghadiri pemakaman.
Meskipun mereka tidak merasa
nyaman, tak seorangpun berani bertanya kenapa dia datang. Mereka terdiam dan
berpura-pura melihat ke arah lain, menghindari kontak mata dengan tidak nyaman.
Meski jika seseorang
bertanya pada Koremitsu, dia sendiri tidak bisa memberi jawaban.
Benarkan, kenapa aku harus
datang ke pemakaman si brengsek yang hidup berlimpah, ketika aku bahkan tidak
pernah bicara banyak dengannya?
Foto Hikaru Mikado
ditempatkan diatas sebuah dupa kayu cendana berwarna putih di depan aula,
tempat itu dipenuhi dengan orang-orang yang berkabung.
Jenazah Hikaru terbaring
ditengah-tengah kerumunan seperti seorang malaikat, dengan senyum di wajahnya
dan taburan bunga dari tulip, lily, dan anyelir.
Dia mempunyai wajah yang
ramping, hidung yang lembut dan bibir yang merekah; kulitnya yang sangat putih
dan setiap irisnya seperti kristal yang transparan. Setiap kualitas ini membuat
mereka sendiri terlihat murni dan manis di tubuh Hikaru Mikado yang terbaring.
Ketika pertama mereka
bertemu, Koremitsu bertanya-tanya kenapa seorang gadis memakai seragam
laki-laki di sekolah.
Ini yang dipikirkan
Koremitsu sebelum mengetahui bahwa laki-laki ramah dengan suara yang unik ini
dikenal sebagai "Pangeran Kerajaan" di sekolah.
Dia bukan hanya sekedar
"Pangeran" sekolah, tapi "Pangeran Kerajaan" sekolah,
adalah julukan yang sesuai dengan kecantikan "Yang Mulia Hikaru"
lebih baik. Siswa SMP yang baru lulus dan mulai bersekolah di SMA membicarakan
dan bermimpi tentang Hikaru Mikado, dan itulah bagaimana Koremitsu mengetauhi
tentang Hikaru di Heian.
Secara umum, dia sangat
terkenal, dan banyak gadis bahkan menyukainya ketika dia masih seorang siswa
taman kanak-kanak di Akademi yang sama.
Meski di sekolah ini penuh
dengan kelompok orang kaya, latar belakang
dan kekayaan keluarganya terbilang luar biasa. Meski begitu, dia
menunjukkan banyak perhatian dan kelembutan pada setiap gadis.
[Sudah kuduga, orang itu
adalah seseorang yang tampan yang tidak memiliki kecocokan apapun denganku.]
Itulah yang dipikirkan
Koremitsu sebelum bertemu Hikaru.
Tapi, untuk suatu alasan,
Hikaru Mikado memanggil Koremitsu dengan senyum ketika mereka bertemu untuk
pertsma kalinya.
[Ada sesuatu yang ingin
kutanyakan padamu]
Koremitsu merasa ada sesuatu
yang salah pada pernyataan Hikaru ketika itu.
Dia mulai bertanya-tanya
apakah dia salah dengar setelah Koremitsu mengetahui kematian Hikaru sebelum
kata-kata itu dimengerti olehnya.
Kabarnya Hikaru tenggelam
dalam banjir yang disebabkan oleh hujan yang lebat ketika menetap di resort di
Shinshu, ketika Golden Week.
Meskipun mereka hanya
berbicara beberapa kata, fakta bahwa Hikaru meninggal di usia muda pada umur 15
tahun adalah kejutan besar bagi Koremitsu, membuatnya sadar sekali lagi bahwa
kehidupan tidaklah permanen, betapa fananya hidup itu. Dia mengingat kematian
ayahnya, dan merasa pahit di hatinya.
Koremitsu merasakan sesuatu
rumit, perasaan yang tidak bisa dijelaskan ketika dia datang ke pemakaman
dibawah hujan gerimis.
Koremitsu duduk di kursi
dengan ekspresi yang kesepian, menatap kosong ke arah pemakaman yang
dikelilingi oleh tangisan wanita.
Hikaru adalah anak yang tampan
Dia seorang anak yang baik.
Dia mempunyai senyum yang menyegarkan.
Suaranya sangat merdu.
Dan dia memiliki jari-jari yang indah - seperti
seniman yang berbakat.
Dia sedikit keras kepala, tapi aku tidak bisa
membencinya karena itu.
Dia sangat takut kesepian, tapi itulah yang
membuatnya manis.
Dia adalah seorang anak yang terlihat dia bisa
membawa seluruh kebahagian di dunia.
Dia adalah seorang anak yang terlihat selalu
diselimuti cahaya.
Semua orang yang hadir
berduka cita dan menagis untuk anak muda ini dan kematiannya yang prematur.
Lagu pemakaman bergema di
telinga Koremitsu.
Dia sedikit tidak mengehui
tentang orang yang meninggal ini, dan ini sangat sulit bagi Koremitsu untuk
mengerti perasaan orang-orang yang sedang berduka cita.
Dia terapung di antara ombak
kesedihan, kejengkelen, rasa bersalah, dan ketidak nyamanan.
Pada saat itu, dia menyadari
seorang wanita duduk di kursi khusus keluarga/kerabat.
Dia terlihat muda.
Dia kemungkinan berusia 20
tahunan.
Tubuhnya terlihat lemah
seperti sebuah bunga yang akan gugur kapanpun, dan dia tidak memakai gaun atau
kimono warna hitam. Rambutnya diikat ke belakang.
Ketika dia dalam pandangan
Koremitsu, dia menahan napas atas keterkejutan yang dia lihat.
Mikado…?
Pada saat itu, dia merasa
bahwa Hikaru Mikado sendiri yang duduk disebelahnya.
Dia secara mengejutkan
terlihat seperti Hikaru.
Rambutnya yang lembut dan
lurus terlihat keemasan disinari cahaya; dia memiliki kulit seputih susu,
hidung yang halus dan elegan, bibir yang seperti kelopak bunga dan leher yang
ramping.
Apa dia kakak perempuan
Hikaru..?
Wanita itu perlahan
tersenyum.
Air mata itu mengaliri wajah
lembutnya, tapi ujung bibirnya sedikit terangkat/dicibirkan.
Itu adalah senyuman yang
tenang dan penuh kepuasan.
Senyumannya adalah sebuah
senyuman yang tidak cocok untuk upacara pemakaman. Koremitsu berdiri di depan
dupa kayu cendana, lubang hidungnya dipenuhi karena aroma dupa, dan dia menatap
setengah terpukau pada wanita itu.
Kenapa… dia tersenyum?
Dia tersenyum sangat cantik,
sangat bahagia.
Kenapa, di pemakamannya…?
Wanita ini yang terlihat
seperti kakak Hikaru menunjukkan senyuman untuk beberapa saat, seperti sebuah
ilusi.
Koremitsu terpaku dengan
pandangan itu sanpai-sampai dia mulai termenung. Sebelum dia termenung, sebuah
suara yang tajam di keramaian mengganggu pikirannya.
[DIA HANYA SEORANG YANG
BODOH]
Terkejut, dia melihat ke
arah suara tersebut.
Seorang gadis memakai
seragam akademi Heian berdiri di depan pemakaman Hikaru.
Rambut hitam panjang yang
diikat dengan pita hitam. Dia terlihat kekanak-kanakan, terlihat seperti tuan
putri. Dia menggenggam kepalan tangannya sambil gemetar. Matanya yang besar
hampir terlihat memancarkan aura kemarahan dan dengan marahnya dia menatap foto
Hikaru yang tersenyum.
Dia mengucapkan kata-kat
yang tajam dari bibirnya yang gemetaran.
[KAU ORANG YANG BODOH KARENA
TENGGELAM DI SUNGAI! ITU SANGAT MEMALUKAN! AKU PIKIR KAU AKAN DITIKAM SAMPAI
MATI OLEH SEORANG WANITA! ITU KARENA KAU SEORANG PLAYBOY DAN ITU KARMA BAGIMU!]
[Jangan lakukan ini, Aoi]
Dengan segera, seorang gadis
yang tinggi memakai seragam yang sama menghampirinya. Dia memegang bahunya,
membawanya keluar.
Terbujuk dengan itu, “Aoi”
mengangkat kepalanya melihat foto Hikaru sekali lagi.
Wajahnya pucat yang terlihat
tegang membuat jantung Koremitsu berdegup.
Itu adalah wajah yang
dipenuhi dengan amarah, kesedihan, dan kebencian. Ekspresi yang berbahaya…
Gadis muda itu berteriak
dari kejauhan.
[KAU PENIPU!]
Koremitsu merasa jantungnya
tertusuk oleh tombak yang tajam.
Kenyataannya, dia bahkan
merasa sakit di hatinya.
(Apa itu… apa-apaan ini?)
Tempat itu untuk sesaat
menjadi senyap tapi tidak untuk waktu lama.
Orang-orang mulai
membicarakan apa yang barusan terjadi.
Penipu.
Pikiran Koremitsu masih
terpikir akan suara gadis yang penuh kemarahan dan dendam, serta ekspresi yang
menyakitkan.
Penipu.
Penipu.
Wajah polos Mikado tepat
didepannya, tapi apa yang menyebabkannya disebut-sebut seperti itu?
“Penipu” Kata-kata yang
menyakitkan bergema di telinga Koremitsu.
Meskipun Hikaru sudah
meninggal, dia tetap menumpahkan rasa fustasinya pada Hikaru. Sebenarnya apa
hubungan yang dimilikinya dengan Hikaru?
Sebenarnya apa kebohongan yang dikata Hikaru?
Terserah… itu tidak ada hubungannya denganku…
Pembacaan doa dimulai, dan
tempat tersebut menjadi penuh Khidmat.
Wanita yang terlihat seperti
Hikaru masih duduk di kursi khusus keluarga, terus menundukkan kepalanya.
Gadis dengan pita hitam yang
mencerca Hikaru perlahan menghilang dari pikiran Koremitsu.
Ketika saat gilirannya
memberikan doa, Koremitsu menuju dupa kayu cendana, menutup mata dan
menundukkan kepalanya.
Apa yang sebenarnya dia
maksud dengan berkata ”Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu?”
Meski begitu, ada pertanyaan
yang dia tidak dapat dihilangkan dari pikirannya.
Tentu saja, itu mustahil
untuk jenazah Hikaru dalam peti untuk memberikan jawaban.
Ketika pemakaman selesai,
Koremitsu pergi. Sekarang masih hujan diluar – cuaca sedang gelap dan lembab.
Ini sangat menyusahkan membawa
payung…
Dia berjalan melewati
jalanan yang basah ketika dia berjalan keluar.
Akagi-san
Untuk sesaat, Koremitsu
berpikir dia mendengar seseorang memanggil namanya.
Dia berhenti dan menoleh
kebelakang.
… Mungkin aku mendengar sesuatu.
Ada dua gadis dengan seragam
sekolah dibelakangnya (Mereka yang menghadiri pemakaman beberapa saat yang lalu),
bahu mereka bergetar, badan mereka menggigil ketika mereka berjalan di jalanan
yang basah.
Koremitsu merasa sebuah
kebencian pada penampilan mereka, dan sambil membalikkan punggungnya dia
melanju tkan berjalan pergi.
Kenapa seseorang yang kasar harus mengunjungi Pemakaman Hikaru-san?
Mendengar pembicaraan gadis
dibelakangnya di pemakaman, Koremitsu meng-klik lidahnya. (Tsk)
◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊

Tidak ada komentar:
Posting Komentar