Selasa, 11 Oktober 2016

Volume 1 Chapter 1 - Part 1

Chapter 1 - Bukankah Kau sudah Mati?
Part 1



Uwaa... kenapa mereka semua perempuan?
Koremitsu Akagi melihat upacara pemakaman, tercengang.
Kombinasi dari blazer kelas atas dan baju putih yang merupakan seragam sekolah Koremitsu, Akademi Heian. Ada juga seragam lainnya, seperti setelan seragam sailor, rompi, blus pendek, jaket dengan pita - sangat banyaknya sampai-sampai mengejutkan, para gadis memakai semua jenis perlengkapan.
Tapi itu belum semua yang dilihat oleh Koremitsu.
Ada mahasiswi universitas dengan setelan pakaian hitam, berteriak dengan pilu.
[Hikaru! Hikaru!]
Seorang wanita yang berduka berdiri disamping para siswa, membawa aura intelektual karena penampilannya ,dia menutup wajahnya dengan sapu tangan ketika bahunya gemetar tak terkendali. Dibelakang wanita itu berdiri seorang wanita kaya yang berlinang air mata, pandangannya menatatap ke bawah. Bersama dengan kerumunan seorang gadis muda yang terlihat seperti siswa sekolah dasar, dan dia tanpa terkecuali dengan mata yang bengkak, dipenuhi dengan air mata.
Koremitsu melihat papan pengumuman sekolah untuk mengecek tanggal pemakaman sebelumnya. Meski begitu, dia akhirnya menyesali karena telah datang.
Diantara para gadis yang menangis berdiri seorang siswa SMA dengan rambut merah yang acak-acakkan, punggungnya membungkuk, tatapan mata yang tajam dan berkerut, membuatnya terlihat paling menonjol.
Mereka yang menghadiri pemakaman sesekali melihat dengan curiga pada Koremitsu Akagi.
Bahkan para gadis yang memakai seragam Akademi Heian gelisah, bertanya-tanya kenapa seorang siswa tahun pertama yang punya reputasi buruk menghadiri pemakaman.
Meskipun mereka tidak merasa nyaman, tak seorangpun berani bertanya kenapa dia datang. Mereka terdiam dan berpura-pura melihat ke arah lain, menghindari kontak mata dengan tidak nyaman.
Meski jika seseorang bertanya pada Koremitsu, dia sendiri tidak bisa memberi jawaban.
Benarkan, kenapa aku harus datang ke pemakaman si brengsek yang hidup berlimpah, ketika aku bahkan tidak pernah bicara banyak dengannya?
Foto Hikaru Mikado ditempatkan diatas sebuah dupa kayu cendana berwarna putih di depan aula, tempat itu dipenuhi dengan orang-orang yang berkabung.
Jenazah Hikaru terbaring ditengah-tengah kerumunan seperti seorang malaikat, dengan senyum di wajahnya dan taburan bunga dari tulip, lily, dan anyelir.
Dia mempunyai wajah yang ramping, hidung yang lembut dan bibir yang merekah; kulitnya yang sangat putih dan setiap irisnya seperti kristal yang transparan. Setiap kualitas ini membuat mereka sendiri terlihat murni dan manis di tubuh Hikaru Mikado yang terbaring.
Ketika pertama mereka bertemu, Koremitsu bertanya-tanya kenapa seorang gadis memakai seragam laki-laki di sekolah.
Ini yang dipikirkan Koremitsu sebelum mengetahui bahwa laki-laki ramah dengan suara yang unik ini dikenal sebagai "Pangeran Kerajaan" di sekolah.
Dia bukan hanya sekedar "Pangeran" sekolah, tapi "Pangeran Kerajaan" sekolah, adalah julukan yang sesuai dengan kecantikan "Yang Mulia Hikaru" lebih baik. Siswa SMP yang baru lulus dan mulai bersekolah di SMA membicarakan dan bermimpi tentang Hikaru Mikado, dan itulah bagaimana Koremitsu mengetauhi tentang Hikaru di Heian.
Secara umum, dia sangat terkenal, dan banyak gadis bahkan menyukainya ketika dia masih seorang siswa taman kanak-kanak di Akademi yang sama.
Meski di sekolah ini penuh dengan kelompok orang kaya, latar belakang  dan kekayaan keluarganya terbilang luar biasa. Meski begitu, dia menunjukkan banyak perhatian dan kelembutan pada setiap gadis.
[Sudah kuduga, orang itu adalah seseorang yang tampan yang tidak memiliki kecocokan apapun denganku.]
Itulah yang dipikirkan Koremitsu sebelum bertemu Hikaru.
Tapi, untuk suatu alasan, Hikaru Mikado memanggil Koremitsu dengan senyum ketika mereka bertemu untuk pertsma kalinya.
[Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu]
Koremitsu merasa ada sesuatu yang salah pada pernyataan Hikaru ketika itu.
Dia mulai bertanya-tanya apakah dia salah dengar setelah Koremitsu mengetahui kematian Hikaru sebelum kata-kata itu dimengerti olehnya.
Kabarnya Hikaru tenggelam dalam banjir yang disebabkan oleh hujan yang lebat ketika menetap di resort di Shinshu, ketika Golden Week.
Meskipun mereka hanya berbicara beberapa kata, fakta bahwa Hikaru meninggal di usia muda pada umur 15 tahun adalah kejutan besar bagi Koremitsu, membuatnya sadar sekali lagi bahwa kehidupan tidaklah permanen, betapa fananya hidup itu. Dia mengingat kematian ayahnya, dan merasa pahit di hatinya.
Koremitsu merasakan sesuatu rumit, perasaan yang tidak bisa dijelaskan ketika dia datang ke pemakaman dibawah hujan gerimis.
Koremitsu duduk di kursi dengan ekspresi yang kesepian, menatap kosong ke arah pemakaman yang dikelilingi oleh tangisan wanita.
Hikaru adalah anak yang tampan
Dia seorang anak yang baik.
Dia mempunyai senyum yang menyegarkan.
Suaranya sangat merdu.
Dan dia memiliki jari-jari yang indah - seperti seniman yang berbakat.
Dia sedikit keras kepala, tapi aku tidak bisa membencinya karena itu.
Dia sangat takut kesepian, tapi itulah yang membuatnya manis.
Dia adalah seorang anak yang terlihat dia bisa membawa seluruh kebahagian di dunia.
Dia adalah seorang anak yang terlihat selalu diselimuti cahaya.
Semua orang yang hadir berduka cita dan menagis untuk anak muda ini dan kematiannya yang prematur.
Lagu pemakaman bergema di telinga Koremitsu.
Dia sedikit tidak mengehui tentang orang yang meninggal ini, dan ini sangat sulit bagi Koremitsu untuk mengerti perasaan orang-orang yang sedang berduka cita.
Dia terapung di antara ombak kesedihan, kejengkelen, rasa bersalah, dan ketidak nyamanan.
Pada saat itu, dia menyadari seorang wanita duduk di kursi khusus keluarga/kerabat.
Dia terlihat muda.
Dia kemungkinan berusia 20 tahunan.
Tubuhnya terlihat lemah seperti sebuah bunga yang akan gugur kapanpun, dan dia tidak memakai gaun atau kimono warna hitam. Rambutnya diikat ke belakang.
Ketika dia dalam pandangan Koremitsu, dia menahan napas atas keterkejutan yang dia lihat.
Mikado…?
Pada saat itu, dia merasa bahwa Hikaru Mikado sendiri yang duduk disebelahnya.
Dia secara mengejutkan terlihat seperti Hikaru.
Rambutnya yang lembut dan lurus terlihat keemasan disinari cahaya; dia memiliki kulit seputih susu, hidung yang halus dan elegan, bibir yang seperti kelopak bunga dan leher yang ramping.
Apa dia kakak perempuan Hikaru..?
Wanita itu perlahan tersenyum.
Air mata itu mengaliri wajah lembutnya, tapi ujung bibirnya sedikit terangkat/dicibirkan.
Itu adalah senyuman yang tenang dan penuh kepuasan.
Senyumannya adalah sebuah senyuman yang tidak cocok untuk upacara pemakaman. Koremitsu berdiri di depan dupa kayu cendana, lubang hidungnya dipenuhi karena aroma dupa, dan dia menatap setengah terpukau pada wanita itu.
Kenapa… dia tersenyum?
Dia tersenyum sangat cantik, sangat bahagia.
Kenapa, di pemakamannya…?
Wanita ini yang terlihat seperti kakak Hikaru menunjukkan senyuman untuk beberapa saat, seperti sebuah ilusi.
Koremitsu terpaku dengan pandangan itu sanpai-sampai dia mulai termenung. Sebelum dia termenung, sebuah suara yang tajam di keramaian mengganggu pikirannya.
[DIA HANYA SEORANG YANG BODOH]
Terkejut, dia melihat ke arah suara tersebut.
Seorang gadis memakai seragam akademi Heian berdiri di depan pemakaman Hikaru.
Rambut hitam panjang yang diikat dengan pita hitam. Dia terlihat kekanak-kanakan, terlihat seperti tuan putri. Dia menggenggam kepalan tangannya sambil gemetar. Matanya yang besar hampir terlihat memancarkan aura kemarahan dan dengan marahnya dia menatap foto Hikaru yang tersenyum.
Dia mengucapkan kata-kat yang tajam dari bibirnya yang gemetaran.
[KAU ORANG YANG BODOH KARENA TENGGELAM DI SUNGAI! ITU SANGAT MEMALUKAN! AKU PIKIR KAU AKAN DITIKAM SAMPAI MATI OLEH SEORANG WANITA! ITU KARENA KAU SEORANG PLAYBOY DAN ITU KARMA BAGIMU!]

[Jangan lakukan ini, Aoi]
Dengan segera, seorang gadis yang tinggi memakai seragam yang sama menghampirinya. Dia memegang bahunya, membawanya keluar.
Terbujuk dengan itu, “Aoi” mengangkat kepalanya melihat foto Hikaru sekali lagi.
Wajahnya pucat yang terlihat tegang membuat jantung Koremitsu berdegup.
Itu adalah wajah yang dipenuhi dengan amarah, kesedihan, dan kebencian. Ekspresi yang berbahaya…
Gadis muda itu berteriak dari kejauhan.
[KAU PENIPU!]
Koremitsu merasa jantungnya tertusuk oleh tombak yang tajam.
Kenyataannya, dia bahkan merasa sakit di hatinya.
(Apa itu… apa-apaan ini?)
Tempat itu untuk sesaat menjadi senyap tapi tidak untuk waktu lama.
Orang-orang mulai membicarakan apa yang barusan terjadi.
Penipu.
Pikiran Koremitsu masih terpikir akan suara gadis yang penuh kemarahan dan dendam, serta ekspresi yang menyakitkan.
Penipu.
Penipu.
Wajah polos Mikado tepat didepannya, tapi apa yang menyebabkannya disebut-sebut seperti itu?
“Penipu” Kata-kata yang menyakitkan bergema di telinga Koremitsu.
Meskipun Hikaru sudah meninggal, dia tetap menumpahkan rasa fustasinya pada Hikaru. Sebenarnya apa hubungan yang dimilikinya dengan Hikaru?
Sebenarnya apa kebohongan yang dikata Hikaru?
Terserah… itu tidak ada hubungannya denganku…
Pembacaan doa dimulai, dan tempat tersebut menjadi penuh Khidmat.
Wanita yang terlihat seperti Hikaru masih duduk di kursi khusus keluarga, terus menundukkan kepalanya.
Gadis dengan pita hitam yang mencerca Hikaru perlahan menghilang dari pikiran Koremitsu.
Ketika saat gilirannya memberikan doa, Koremitsu menuju dupa kayu cendana, menutup mata dan menundukkan kepalanya.
Apa yang sebenarnya dia maksud dengan berkata ”Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu?”
Meski begitu, ada pertanyaan yang dia tidak dapat dihilangkan dari pikirannya.
Tentu saja, itu mustahil untuk jenazah Hikaru dalam peti untuk memberikan jawaban.
Ketika pemakaman selesai, Koremitsu pergi. Sekarang masih hujan diluar – cuaca sedang gelap dan lembab.
Ini sangat menyusahkan membawa payung…
Dia berjalan melewati jalanan yang basah ketika dia berjalan keluar.
Akagi-san
Untuk sesaat, Koremitsu berpikir dia mendengar seseorang memanggil namanya.
Dia berhenti dan menoleh kebelakang.
… Mungkin aku mendengar sesuatu.
Ada dua gadis dengan seragam sekolah dibelakangnya (Mereka yang menghadiri pemakaman beberapa saat yang lalu), bahu mereka bergetar, badan mereka menggigil ketika mereka berjalan di jalanan yang basah.
Koremitsu merasa sebuah kebencian pada penampilan mereka, dan sambil membalikkan punggungnya dia melanju tkan berjalan pergi.
Kenapa seseorang yang kasar harus mengunjungi Pemakaman Hikaru-san?
Mendengar pembicaraan gadis dibelakangnya di pemakaman, Koremitsu meng-klik lidahnya. (Tsk)

◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊◊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar