Rabu, 19 Oktober 2016

Volume 1 Chapter 1 - Part 4

Chapter 1 Bukankah Kau sudah Mati?
Part 4



[wow! Chabudai*. ternyata masih ada di Jepang]
ketika koremitsu, Koharu, dan kakek sedang makan malam di ruang makan, Hikaru terlihat seperti seorang pangeran yang memasuki rumah orang biasa dengan sangat penasaran melayang di sekeliling rumah. Dia akan berseru kapanpun dia melihat sesuatu, dan akan mengamati dengan mata terbuka lebar, tanpa menoleh dan memberikan senyum.
[Ah, Ubinya sudah masak! itu telihat sangat lezat ~sangat nikmat. Itu terlihat memiliki sentuhan keibuan. aku ingin mencobanya juga~]
Koremitsu, yang mulai memegang sumpit untuk dibasahi dengan lidahnya, merasa selera makannya hilang dengan tatapan mata memelas dari tengah meja.
Bukankah kau hantu? kau tidak bisa makan.
 Koremitsu ingin bicara, tapi berhenti setelah melihat Koharu dan kakeknya melanjutkan makan mereka dengan ekspresi seperti biasanya.
Sepertinya kakek dan Koharu benar-benar tidak bisa melihatnya.
Bukti-bukti yang ada tentang situasinya saat ini menyebabkan sakit kepala pada Koremitsu.
[Hei, Lembaran Kaligrafi ini ditulis dengan sangat ahli. Siapa yang menulisnya?]
Kakek
[Apa maksud dari dekorasi Rakun ini?]
Siapa yang tahu?
[Ah, pintu geser ini dilapisi dengan Washi sejenis kertas jepang. Bisa digunakan untuk kesenian apapun. Ah, disini juga! apa kau membuatnya sendiri? kau pasti sangat terampil.]
Jangan berteriak untuk hal-hal sepele.
Memegang sumpitnya sekali lagi, dia menyeringai ke arah Hikaru.
[Koremitsu, apa yang kau lihat dari tadi?]
Koharu bertanya bukan untuk mendapat jawaban tapi untuk memberi peringatan pada Koremitsu. Kakek Koremitsu, yang terlahir sebelum masa perang, juga menasihatinya.
[Jangan menyisakan nasi. kau akan mendapat hukuman dewa.]
Koremitsu merinding di lehernya.
Hikaru sementara itu sedang mengagumi pintu geser dengan sangat terpesona, [ Ah, ini dilapisi dengan chiyogami...]
Koremitsu berpikir ini semua adalah salah Hikaru.
[Akagi-san, boneka Kokeshi! boneka-boneka Kokeshi tersusun rapi. Apa kau yang mengoleksinya? mereka sangat imut! mata yang sipit sungguh bentuk dari kecantikan Jepang]
Hikaru sekali lagi bergumam dengan sangat semangat.
Diam kau! Kau sudah mati!
Koremitsu berhenti bicara dan menahan kekesalannya sekali lagi pada hari itu.
Dia akan kena masalah jika Hikaru berdiam di ruang rumahnya sebagai hantu penasaran yang mencari dendam.
Selain itu, dia merasa perlu mengalihkan Hikaru dari pandangannya, membuat Koharu dan kakeknya lebih salah paham padanya.
Koremitsu biasanya makan lebih pada makan malam, tapi kemewahan itu harus dilupakan sejenak.
[Aku pergi dulu]
Dia bergumam lirih, [kenapa bertingkah sok keren hanya untuk kembali ke kamarmu sendiri? kau ingin menghajar Yakuza atau semacamnya?]
Koharu membentaknya.
[Pertama-tama, duduk dulu sebelum kita mulai beres-beres]
Koremtsu kembali ke kamarnya, menutup pintu, membentangkan alas duduk di tatami. dan menyuruh Hikaru mendekat.
[Akagi-san, aku senang kau menyuruhku duduk juga, tapi kurasa tidak ada pengaruhnya memberiku alas duduk . meski begitu aku tahu maksudmu]
Hikaru menekuk lututnya diatas alas duduk sementara dia melayang di udara.
Koremitsu mulai berbicara.
[SIAPA YANG MENGUNDANGMU DISINI!? BULU KUDUKKU BERDIRI KETIKA KAU MELAYANG DI DEPANKU. SETIDAKNYA TARUH KAKIMU - tidak, tunggu, lutut di lantai - TERSERAH, JIKA KAU INGIN AKU MENDENGARMU, KAU SEBAIKNYA BERSUNGGUH-SUNGGUH MEMOHON PADAKU]
Wajah Koremitsu berubah warna ketika dia berteriak.
[Ok, aku paham]
Tanpa diduga, Hikaru berlutut di lantai dan merapatkan lututnya untuk duduk dengan benar di alas duduk.
Bahkan, dia duduk "Seiza", dan punggungnya terlihat lebih tegap daripada Koremitsu, yang duduk dengan punggung yang membungkuk. Itu sangat sempurna selain dari fakta bahwa alas duduknya tidak tenggelam sama sekali.
[Apa ini sudah baik? Apa kau mau mendengarku sekarang?]
Hikaru menunjukkan senyum lembut andalannya.
Bagaimana aku mengatakannya? Orang ini.... bisa-bisa mengacaukan ritmeku/hidupku.
Koremitsu berpikir sambil menyilangkan kakinya di lantai.
[Baik, Aku akan mendengarkanmu sekarang]
[Jika memungkinkan, aku harap kau bisa membantuku juga. Sebenarnya, ada seorang gadis yang aku tidak bisa kulupakan dari hatiku. Ulang tahunnya sebentar lagi, dan pada hari terakhir saat Golden Week, aku mengirim surat yang ditempeli dengan Lilak ke rumahnya.]
Kenapa harus menggunakan tangkai tanaman untuk mengikat surat? Tidak bisakah kau mengiriminya sebuah SMS?
Koremitsu terlihat bingung.
Kemudian, mata dan bibir Hikaru seperti memancarkan kelembutan.
Pada surat itu, dia menulis,
[Ini adalah hadiah pertama. Aku menyiapkan 6 hadiah lain untuk ulang tahunmu. Tunggulah pada saatnya]
Apa wanita sangat serakah sampai-sampai tidak puas bila tidak mendapatkan 7 hadiah? Bukankah kau harus menghabiskan banyak uang jika kau ingin memberikan 7 hadiah untuk setiap ulang tahun? Sebelum membicarakan itu, bagaimana bisa kau memikirkan 7 hadiah apa yang ingin kau berikan?
Bagi Koremitsu, memberi hadiah pada wanita adalah konsep dari dimensi lain.
Tapi Hikaru menunjukkan ekspresi yang melankolis di matanya.
[Seperti yang kau lihat, aku sudah mati, dan aku tidak bisa memenuhi janjiku. maukah kau menggantikanku menyerahkan hadiahku padanya?]
[Jadi, kau memintaku melakukan sesuatu yang berkaitan dengan perempuan]
[Ya, bagiku, dia seorang gadis yang sangat penting]
Alis mata Hikaru naik ketika dia menunjukkan pesonanya yang lembut dan manis. kontas dengan Koremitsu yang menunjukkan ekspresi tidak senang.
[Aku tidak mau melakukannya]
[Eh....!? tu-tunggu, apa kau tidak menolakku terlalu cepat, Akagi-san?]
Ini untuk pertama kalinya bagi Hikaru, yang terlihat sangat santai bahkan setelah menjadi hantu, menunjukkan tanda kebimbangan.
Koremitsu tetap teguh, [aku tidak akan membicarakan permohonan terkait dengan wanita]
[Kenapa!?]
[kakek berkata padaku jangan dekat-dekat dengan para gadis]
[Apa artinya itu?]
[20 tahun lalu, istrinya - nenekku- berkata bahwa dia ingin memulai hidup baru, dan meninggalkan surat cerai sebelum dia pergi.]
Semenjak apa yang terjadi padanya, kakeknya selalu bergumam [ Wanita semuanya sama saja] dan dia selalu bersilang pendapat dengan bibi Koremitsu, Koharu yang telah bercerai yang selalu mengatakan sesuatu yang sama [Pria semuanya sama saja]. Menurut Koharu, ini sudah bisa ditebak bahwa nenek Koremitsu tidak bisa menghadapi kakeknya.
[Ini....ini pasti sebuah kejutan besar bagi kakekmu, tapi nenekmu tidak bisa disebut mewakili seluruh wanita]
[Ketika aku kelas 1 SD, wanita yang kupanggil Ibuku meninggalkan Ayahku dan diriku, dan lari dengan laki-laki lain]
[Uw!]
Hikaru tiba-tiba tidak bisa berkata apa-apa.
[Dan juga, Laki-laki yang bersamanya adalah wali kelasku sendiri]
[Ehh..]
[Dan lalu, setengah tahun kemudian, Ayahku meninggal karena serangan jantung]
[Be-begitu rupanya. kau pasti sangat tegar. A..Ayahmu pasti menderita mengalami sebuah tragedi juga... tapi pacarku tidak akan memberiku surat cerai atau lari dengan laki-laki lain. Ini tidak seperti aku menyuruhmu berpacaran atau menikah dengannya. aku hanya ingin kau mengiriminya hadiah pada hari ulang tahunnya, dan kemudian aku bisa pergi ke surga dengan bahagia. Lihat, ini akan sangat merepotkan jika aku tetap menempel padamu setiap saat, khan?]
Arti tersembunyi dari kata-kata itu adalah bahwa Hikaru mengancam Koremitsu dengan akan selalu menghantuinya sebelum permintaannya dipenuhi. Hikaru terus menunjukkan ekspresi yang memelas.
[Kumohon...? ini adalah janji yang sangat penting. Aku tidak memiliki teman, jadi aku hanya bisa memintamu, Akagi-san]
[Kau mengatakan bahwa kau tidak memiliki teman? Teruslah mencoba kau menipuku. Bukankah kau seseorang yang sangat terkenal dalam pergaulan?]
Dia terlahir dengan penampilan yang mempesona, dan kepribadiannya sangat menyejukkan. Dia juga seorang "Pangeran" di sekolah, seseorang yang dikelilingi banyak penggemar. Bagi Koremitsu, ini sesuatu yang sangat menjengkelkan seseorang seperti dia bisa berkata mereka 'tidak memiliki teman'.
Bagaimana orang yang pandai bicara seperti dia mengerti rasa sakit ditinggal sendirian ketika guru menyuruh murid-muridnya “membentuk pasangan” pada saat kelas Olahraga atau kesenian.
Semua orang menjauh dariku seperti laba-laba ketika aku berjalan, menanyakan arah menuju ruang guru. Tak seorangpun yang bisa kuajak bicara ketika jam istirahat, aku kesulitan menghabiskan waktu istirahat 10 menit itu, dan aku hanya bisa menggunakan waktu itu untuk belajar. Bagaimana seorang tuan muda yang naif sepertimu mengerti rasa sakit terasingkan?
Meski begitu, Hikaru menurunkan bahunya sambil bergumam sedih.
[Memang benar… aku selalu populer diantara para gadis bahkan sejak aku masih TK, dan semua gadis di kelasku ingin menjadi pacarku. Pada saat pertemuan kelas, mereka berdiskusi, yang berkesimpulan “Hikaru untuk semua orang, tak seorangpun boleh berpacaran dengannya” dan semuanya setuju.]
…Apa dia mencoba pamer? Ngomong-ngomong, murid-murid SD memang menjengkelkan ketika menggunakan suara mayoritas untuk memutuskan sesuatu.
Lebih jauh Koremitsu mendengar, lebih jauh lagi bibirkan ditekuk.
[Tapi karena itu, semua laki-laki selalu menjauhiku]
Mendengar itu, telinga Koremitsu tiba-tiba terperanjat.
Kau….dijauhi?
[Sama saja ketika saat kelas Olahraga. Tak seorangpun mau berpasangan denganku]
Telinga Koremitsu terperanjat lagi.
[Sama saja ketika aku masuk SMP. Aku dipanggil oleh sekelompok anak laki-laki ke belakang gedung olahraga, mereka berkata bahwa aku merebut pacar mereka. Mereka mencari masalah denganku….menyebarkan rumor jelek sampai-sampai tak seorang laki-lakipun di kelas yang mau bicara padaku..]
Koremitsu membanyangkannya dan merasakan sakit di dadanya, seperti ada menusuknya.
Dia mengerti lebih dari siapapun rasa sakit diasingkan karena rumor yang tidak jelas.
Dia mengingat kembali bagaimana dia harus makan siang sendiri ketika masa istirahat, dia mengingat kembali bagaimana dia diam menggerakkan sumpitnya sementara mendengar canda ttawa dan percakapan teman-teman kelasnya. Dia mengingat kembali orang-orang hina yang sangat membosankan dan selalu mencorat-coret mejanya, memanggilnya dengan nama “Sam” dan “John” dan sebagainya.
Setiap kali dia mengingat itu, matanya terasa pedih.
Jadi begitu? Jadi orang ini mengerti rasa sakit itu?
Jadi dia selalu mengalami hari-hari yang buruk?
Dia ingin memenuhi sebuah janji pada seorang gadis yang tak bisa dia lepaskan dari hatinya, tapi dia tidak memiliki teman. Dia sangat kesepian sampai-sampai hanya bisa bergantung padaku.
Jadi begitu? Jadi begitu rupanya?
Ini sangat tak tertahankan, dasar sial.
[Ji….Jika begitu keadaannya…aku akan membantu mengantikanmu memberikan hadiah itu]
Koremitsu mengedipkan matanya dan menoleh kesamping dan mengatakan ini dengan tegannya.
Mendengar ini, Hikaru merasa puas dan berkata,
[Terima Kasih! Aku tahu kau akan membantuku, Akagi-san, sungguh-sungguh aku berterima kasih]
Kata-kata yang dipenuhi keanggunan dan kepercayaanini menyebabkan sesuatu yang panas di tenggorokannya.
[Aku akan pergi… ke toilet]
Dia mengangukkan kepalanya dan segera meninggalkan ruangan supaya tak seorangpun melihat air mata di kelopak matanya.
Dia membuka pintu toilet, menghapus air mata dengan jarinya, mendesah, melepas celana tidurnya sekaligus dengan celana dalamnya…
[!]
Tapi terlihat Hikaru dengan ekspresi meminta maaf melayang diatas langit-langit toilet.
[WOAH!? KENAPA KAU MENGIKUTIKU KESINI!? DAN KAU BAHKAN MELIHAT PUNYAKU! APA KAU SEORANG MESUM!?]
[Aku melihat keduanya depan dan belakang tadi ketika kau masuk kamar mandi]
Di wajah keterkejutan Koremitsu, Hikaru mendesah ringan dan menunjukkan ekspresi serius, berkata,
[Ada sesuatu yang tidak mengenakkan yang harus kusampaikan padamu]
Ap..Apa itu?
Koremitsu menahan napas sambil dia mendengarkan, dan Hikaru mencoba yang terbaik agar dia tidak terkejut dan dengan tenang menjelaskan.
[Sepertinya kemanapun kau pergi, aku akan ikut terbawa bersamamu. Jadi hiraukan saja aku dan lanjutkan]

Volume 1 Chapter 1 - Part 3

Chapter 1 Bukankah Kau sudah Mati?
Part 3



Pada akhirnya, Mikado tidak pernah meminjam buku teks dariku, dan kita hanya berbicara satu kali.
Jalanan sangat gelap, dan hujan menyebabkan pandangan Koremitsu menjadi kabur ketika dia pulang ke rumah.
Dia berpikir tentang situasi Hikaru sejak saat dia meninggalkan tempat pemakaman.
Tidak ada sesuatu yang bisa kulakukan...
Pertemuan mereka membawa dampak besar pada Koremitsu, dan peristiwa di pemakaman memberi dampak lebih.
Tetap saja, Koremitsu tidak memahami sama sekali tentang seorang yang bernama Hikaru Mikado. Koremitsu masih teringat pada sikapnya, kesungguhannya dan senyumannya, itu semua menjadi teka-teki.
Orang seperti apa Hikaru itu sebenarnya?
 Jika orang itu tidak mati, Jika dia masih hidup...akankah dia benar-benar datang untuk meminjam buku teksku?
Dia akan membuka pintu kelas dengan keras, memberikan senyuman yang cerah,
"Akagi-san! Aku lupa buku teksku!"
Dan itu pasti diucapkan dengan nada yang lembut,kupikir?
Gambaran ini sekilas terlintas di pikiran Koremitsu, dan jauh dalam dirinya terbakar dengan sensasi terpenjara. Mungkin ini adalah sedikit kesedihan yang dimilikinya untuk seorang berusia 15 tahun yang hidupnya harus berakhir.
Hujan semakin deras.
Rumah kayu yang dibangun kakeknya berada jauh dari pusat kota, sebuah tempat yang difungsikan sebagai rumah kaligrafi. Ketika dia sampai, rambut merah acak-acakannya menempel di kelopak mata dan telinganya.
Dia membuka pintu depan, dan pintu masuk bibinya Kohaku sedang berdiri, membawa beberapa garam mentah.
[Koremitsu, berbalik ke belakang!]
Dia menyuruhnya dengan tegas.
Koharu biasanya berpakaian jersey dengan lengan digulung dan kemeja, rambutnya terikat rapi kebelakang dengan anggun. Seorang yang bercerai, dia pulang ke rumah dari pekerjaannya di tempat belanja on-line di internet. Saat ini, Dia, Koremitsu dan dan kakeknya yang tinggal bersama-sama.
Koremitsu mengikuti apa yang dia katakan dan berbalik, dan kemudian, suara garam yang disebar padanya terdengar.
Bukankah ini terlalu banyak hanya untuk penyucian? apa kau ingin menjadikan ikan asin?!
Meski dia berpikir begitu, dia tetap diam menyadari fakta bahwa kewenangan tertinggi di rumah ini sudah berpindah dari kakeknya ke bibinya, dia memilih untuk tetap diam.
[Baiklah, berbalik sekali lagi]
Dia berbalik, dan garam dalam jumlah banyak berserakan di kakinya. Pakaiannya yang sudah basah bercampur dengan butiran garam.
[Air di pemandian sudah mendidih. Pergi mandi. Setelah selesai, makan malam,dan jangan keluyuran]
Dia berbicara dengan nada yang maskulin.
Tiba-tiba, ada gelak tawa dari belakang.
[Kakak Akagi-san terlihat sangat garang dan menarik. Dan sepertinya di mirip denganmu]
Umm..?
ketika itu, dia menghentikan langkahnya.
Ada apa ini?
Dia berpikir dia mendengar suara yang tidak biasa disini..
Tidak, aku pasti salah dengar.
Koremitsu pikir dia kelelahan karena dia tidak terbiasa menghadiri upacara pemakaman. Mengambil handuk yang disiapkan Koharu, dia menaruhkan di kepala dan menuju kamar mandi.
Setelah berendam di bak mandi, badannya akan terasa nyaman, dan pikirannya menjadi jernih.
Dia melepaskan blazernya, melepaskan kancing baju yang basah dan tidak nyaman, dia melepas celana panjangnya.
Pada saat dia membuka pintu kaca kamar mandi, dia mendengar suara yang lembut sekali lagi.
[Heh.. kau terlihat kurus, tapi otot-tot itu membuatmu terlihat berbeda dariku. suadah kuduga dari raja berandalan]
aku bukan berandalan.
Tidak, sebelum menjawab, siapa orang yang baru saja bicara padaku?
Suara kakeknya tidak semuda ini, dan suaru ini terlalu lembut bagi Koharu.
[Jika aku bertelanjang sekarang, kebanyakan dari mereka berkata bahwa aku cantik, seperti seorang gadis dan memiliki kulit seputih susu dan sebagainya. Itu sangat menyakiti kebanggaanku sebagai pria]
Suara itu terdengar memuji penampilannya terdengar ditelinga Koremitsu.Suara lembut ini terdengar mirip dengan suara laki-laki yang dia dengar ketika mereka bertemu di koridor sekolah.
 Meski begitu, laki-laki itu seharusnya sudah mati beberapa hari yang lalu; Koremitsu menghadiri pemakamannya hari ini, dan bahkan ikut membakar dupa.
[Lenganmu juga terlihat ramping, tapi mereka sangat kokoh. Itu ukuran ideal yang kuinginkan.]
Bisakah halusinasi berlangsung selama ini?
Suara itu terasa sangat jelas, seperti terdengar dari atas kepalanya
tanpa sengaja, Koremitsu menolehkan kepalanya ke arah suara itu, dan sesaat kemudian, berteriak.
[UWWAAAHHHHH!!!???]
bagaimana!? laki-laki dengan wajah malaikat itu- memakai seragam sekolah! Hikaru Mikado!
Di langit-langit kamar mandi! dikelilingi uap!
Dia melayang di udara!
[Uh huhh? apa kau bisa melihatku disini , Akagi-san?]
Dengan kemungkinan yang terjadi, tubuh Hikaru yang melayang bersorak.
Rambutnya, terlihat keemasan dengan cahaya sebagaian menembus belahannya, terangkat angin sepoi-sepoi dan bergerak lembut diatas kepala Hikaru yang kecil.
Koremitsu meraih ujung dari bathtub, mulutnya masih menganga... dagunya seperti mau jatuh ke tanah. Hikaru seketika melebarkan matanya melihat ke arahnya. Sosok Hikaru yang terlihat seperti malaikat yang turun ke bumi bagi Koremitsu. Jika dia mengganti seragamnya dengan kimono mandi, cahaya yang berkilauan dapat memberi efek yang menyilaukan.
Koremitsu memandang mata Hikaru, tergagap dalam ketidakpercayaannya pada semua ini.
[Bu...bukankah kau sudah mati...?]
Tanpa pemberitahuan, bibinya Koharu membuka pintu kaca  dan berteriak dalam kamar mandi.
[Ada apa Koremitsu!?Apa kau jatuh dan kepalamu terbentur? jangan bilang kau harus dirawat  di rumah sakit lagi!]
Di tangan kanannya memegang pisau dapur, menunjukkan bahwa dia sedang mempersiapkan makan malam.
[Ko-Koharu...disitu...]
Koremitsu gemetaran sambil menunjuk ke arah langit-langit.
Ada seorang hantu dengan seragam sekolah melayang di depan mereka. Tidak diketahui apakah Hikaru sebenarnya ramah atau dia hanya memperlakukan para gadis dengan lembut, ketika dia menunjukkan senyuman pada Koharu.
Jika dia seorang gadis yang masih remaja, dia pasti akan meleleh seperti mentega. Suaranya terdengar jengkel dengan nada dipenuhi niat membunuh ketika dia  menyangkal Koremitsu karena kegaduhan yang disebabkannya.
[Hah!? Apa ada kecoa yang menempel padamu? Kau bukan perempuan. Jangan berteriak-teriak karena sesuatu yang kecil]
[Tidak bisakah kau lihat itu!?]
[Jadi, Aku tidak bisa melihat ada kecoa atau kelabang dari sini]
Bukankah ada seorang laki-laki memakai seragam sekolah disana!?
Dia ingin memberitahukan itu, tapi tidak jadi setelah melihat ekspresi Kohaku, mnunjukkan dia akan melayangkan pisau dapur padanya tanpa ragu.
Koharu menutup pintu kaca dan pergi.
[kau memiliki kakak perempuan yang galak]
Hikaru menyadari fakta bahwa senyumannya tidak efektif ketika mengatakan ini
Sementara itu, dalam pikiran Koremitsu.
Tetap tenang...tetap tenang...
Koremitsu terus mengulang-ulang kata itu ketika dia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Hikaru Mikado, yang seharusnya sudah mati, muncul di dalam kamar mandinya.
Dia mempunyai kaki, tapi tubuhnya melayang di udara.
Dan Hikaru tak terlihat oleh Koharu.
Koremitsu melihat ke arah cermin di dinding kamar mandi, terlihat hanya bayangan dirinya yang sedang telanjang di selimuti uap, dan melihat sekali lagi ke arah Hikaru.
Dia masih ada disitu.
Koremitsu sekali lagi melihat ke cermin.
Rambut merah, laki-laki kurus dengan tatapan yang tajam yang terlihat.
[Hi, Akagi-san]
Sebuah suara terdengar.
[!]
Koremitsu berbalik, melihat Hikaru dibelakangnya seperti hewan peliharaan yang siap bekerja dengan penuh gairah, dan dengan tenangnya berkata.
[Ini seperti yang kau duga, Akagi-san. Aku memang sudah mati. Inilah kenapa aku merasa aku adalah seorang hantu.]
Hikaru berhenti sejenak.
[Ya, ini pasti yang terjadi. Aku tidak yakin apa artinya menjadi hantu, tapi aku merasa menjadi sesuati yang lain. Aku merasa seperti mahluk fantasi dalam fiksi ilmiah, ini mungkin lebih baik. Kau pasti merasa begitu juga, khan, Akagi-san]
Apa yang baik dari itu? Bagaimana bisa kau yakin kau itu benar!? Seorang yang mati tiba-tiba muncul dihadapan orang yang masih hidup seperti fantasi bagimu!? Ini sebuah kenyataan, bukat imajinasi.
Koremitsu merasakan kekesalan di hatinya, tapi tidak mengungkapkannya.
Hanya sekali waktu dia percaya pada hantu adalah saat sebelum bersekolah – hasil dari ketidakdewasaan. Sebagai tambahan, bayangan di cermin tidak menunjukkan keberadaan Hikaru.
Koremitsu terjerat dalam konfik antara kewajaran dan yang dilihatnya.
[Sini, coba lihatlah]
Hikaru merentangkan tangannya yang putih ramping menyentuh Koremitsu. Tanganya menembusnya, dan kulit dan tulang menembus ke sisi yang lain.
Koremitsu menahan dengan kuat untuk menjerit. Dia tidak ingin melihat tangan seseorang menembus dirinya. Itu sangat tidak logis baginya. Dia merinding disekujur tubuhnya, seperti dirayapi kelabang di punggungnya.
Koremitsu memegang dadanya, menrik nafas dalam-dalam, dan berkata [M..Meskipun ini kenyataan, dan aku bukan hantu, meski kau seorang hantu, kenapa kau harus muncul di kamar mandiku?]
Mereka bukan teman.
Mereka bahkan bukan teman sekelas.
Mereka hanya berbicara satu kali di Heian.
Hikaru menatap dengan penuh perhatian pada Koremitsu.
[Ini tidak tiba-tiba. Aku terus bersamamu di upacara pemakaman. Aku memanggilmu ‘Akagi-san’ pada saat pemakaman, dan kau berbalik, ingat?]
Koremitsu terdiam mendengar kata-kata Hikaru.
Itu memang benar bahwa aku merasa seseorang memanggilku ketika aku pulang ke rumah. Jadi orang ini sudash melayang diatas kepalaku sejak saat itu!? Mungkinkah dia mengikutiku ketika aku pulang ke rumah!?
[Pada saat itu, aku mengira jika aku menempel padamu, Akagi-san. Tentu saja, itu sebuah misteri]
[Oi! Kenapa aku? Apa yang kulakukan sampai membuatmu dendam? Apa kau ingin menjadi ketua geng ke-27? Kau ingin bertarung denganku karena aku melampaimu? Apa kau berbicara denganku di koridor karena ini? Jika karena itu, aku akan memberikan posisi itu padamu. Kau boleh memanggil dirimu apapun yang kau inginkan. Atau aku bisa menuliskannya di batu nisanmu dengan pisau]
Dahi Koremitsu terihat tanda silang menunjukkan kejengkelan. Hikaru tersenyum dengan lembut dan menjawab.
[Tidak sama sekali. Aku tidak memiliki dendam padamu sama sekali.]
[Lalu kenapa?]
Koremitsu menatapnya, Hikaru melirik dengan malu-malu.
[Bukankah kita memiliki sebuah janji?]
[Huh?]
Koremitsu terbengong.
Janji apa?
[Aku ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu ketika aku akan meminjam bukumu.]
Senyum menawan terlihat di wajah Hikaru ketika menatap Koremitsu.
Koremitsu tidak memperdulikan ketidaknyamanannya dan dia mendekatkan tubuhnya ke arah Hikaru.
[Hei, Apa yang ingin kau tanyakan padaku?]
Bahkan sejak dia mendengar kematian Hikaru, Koremitsu terus terganggu karena hal itu, seperti ada duri yang menempel di tenggorokkannya.
Apa ada “sesuatu” yang Hikaru ingin sampaikan padanya?
Hikaru meminta sesuatu padanya, seseorang yang tidak dikenalnya, seseorang yang baru ditemuinya pertama kali.
Hikaru memohon pada Koremitsu, sesorang yang terkenal sebagai berandalan yang liar – seseorang yang dijauhi orang lain.
Senyum Hikaru menghilang, dan ekspresinya menjadi sedih. Dia memalingkan pandangannya dan terdiam akan pertanyaan Koremitsu.
[….]
Hei, kenapa dia tidak berkata apapun? Kenapa dia terlihat kecewa?
Koremitsu menjadi tidak sabar dengan ekspresi Hikaru yang terlihat tenang.
Dia merasa keringat dingin yang tidak nyaman ketika dia menunggu alasan dibalik kesunyian ini. Pada saat itu, Hikaru melekuk bibirnya, dan tersenyum tipis.
[Tentang itu… lupakan saja]
Dia berkata dengan lembut.
[Huh!? Apa artinya itu!?]
Nada suara Koremitsu tiba-tiba menjadi keras. Situasinya berkembang menjadi sesuatu yang Hikaru takutkan, karena jawaban yang dinginkan Koremitsu tidak seperti yang diharapkan.
[Jangan main-main denganku. Kau sebaiknya mengatakan yang sebenarnya]
Koremitsu menjadi jengkel dan Hikaru menepuk tangannya dan meminta maaf.
[Aku minta maaf. Sebenarnya, aku pikir aku sedikit hilang ingatan ketika aku mati. Aku tidak bisa mengingatnya sekarang]
Kau bercanda kan !?
Koremitsu menatapnya dengan tajam, Hikaru hanya bisa tersenyum.
[Meski begitu, ini sangat jarang memiliki janji, dan sebab kita bertemu lagi setelah kematianku, aku ingin meminta sesuatu yang lain.]
[Permintaan yang lain, maksudmu!?]
Hikaru mengangguk.
[Ya, aku pasti menempel padamu, jadi kuharap aku bisa mendapat bantuanmu]
Mata Hikaru tertuju pada Koremitsu seperti sebuah gravitasi yang kuat – seperti segalanya akan terhisap olehnya.
Pangeran Sekolah.
Koremitsu akhirnya mengerti kenapa semua orang di sekolah menjulukinya seperti itu, ini terlihat dari keagungannya. – aku bisa dimaafkan siapapun apapun yang keperbuat.
Koremitsu hampir saja setuju melakukan apapun yang diinginkannya setelah melihat senyum yang menawan itu.
Ini Buruk!
Dia tidak tahu kenapa, tapi instingnya dalam dirinya berbunyi.
Dia memiliki perasaan yang menjengkelkan bahwa dia akan terlibat dengan Hikaru jika ini tetap berlanjut. Kenyataan menyadarkannya seperti petir.
[Koremitsu! Sampai kapan kau akan bicara sendiri di kamar mandi!? Apa kau sudah berteman dengan kecoa!? Segera keluar jika sudah selesai!]
Koharu sekali lagi membuka pintu kaca dan berteriak.
[Oh, Ok.]
Koremitsu segera saja meraih ember untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
[….Dia berkata aku seekor kecoa?]
Hikaru termenung, terlihat kecewa.