Rabu, 19 Oktober 2016

Volume 1 Chapter 1 - Part 2

Chapter 1 - Bukankah Kau sudah Mati?
Part 2



Ada beberapa orang di dunia ini yang mudah disalah pahami.
Lima belas tahun sudah Koremitsu Akagi mengalami ketidak beruntungan dikarenakan penampilannya.
Dia terlihat seperti termenung setiap saat, matanya selalu tertunduk dan terlihat arogan dan merendahkan, mulut yang melengkung kebawah tanda ketidakbahagiaan.
Dia memiliki wajah yang kaku dan tidak menunjukkan keramahan. Penampilannya tidak menyenangkan - kerutan yang tajam, punggung yang membungkuk, badannya yang kurus, dan rambut merah kocaklatan yang tidak tertata membuatnya terlihat seperti seharusnya anak berandalan.
Dia selalu menjadi tempat kesalah pahaman seiring bertambahnya usia.
Ketika dia masih di TK, para siswa ketakutan pada ekpresi liar Koremitsu dan selalu menjauhinya dari pergaulan. Ketika upacara penerimaan di SD, gadis-gadis yang duduk disebelah Koremitsu tiba-tiba pingsan, dan anak-anak lain didekatnya mulai menangis setelahnya, menyebabkan kegaduhan oleh anak-anak yang menangis.
Ketika SMP, Koremitsu terlibat masalah dengan beberapa kakak kelas yang membolos kelas di sudut sekolah. ketika ingin menjauh dari mereka, dia secara tidak sengaja memperoleh julukan " Raja petarung", "Raja berandalan", dan julukan yang lainnya. Dengan julukan itu, dia mulai dilihat sebagai seseorang yang berbahaya. Sebagai hasilnya, Koremitsu tidak dapat memiliki teman di SMP.  
Dan kemudian, pada saat upacara kelulusan yang tak terlupakan.
Ketika teman-teman kelasnya menangis sambil berpamitan satu sama lain, Koremitsu diasingkan oleh mereka, dan ditinggalkan sendiri diantara pohon sakura. Disana dia berpikir, "aku tidak bisa membiarkan ini berlanjut."
Ketika Koremitsu memasuki SMA, dia memprioritaskan memulai pertemanan yang baru untuk menghindari rasa sakit dipanggil "Iblis merah", "Pembawa bencana", "Anjing Liar", dan lainnya.
Itu yang yang dia putuskan.
Meski begitu, pada hari sebelum upacara penerimaan sekolah, Koremitsu tertabrak Truk di persimpangan jalan yang ramai lalu lintas, dan menemukan dirinya dirawat di rumah sakit selama sebulan untuk pemulihan.
Setelah kecelakaan, bibi Koremitsu, yang sekaligus walinya, menggila.
[kenapa kau bisa terlibat masalah satu demi satu! ini keajaiban kau bisa lulus ujian masuk sekolah swasta yang prestisius, dan kau mengacaukannya dengan tidak menghadiri upacara penerimaan karena di rumah sakit? bahkan siswa SD tidak berlari ketika menyebrang jalan!]
Dan terus menunjukkan kemarahannya.
Koremitsu akhirnya bisa keluar dari kehidupan suram di ranjang rumah sakit, dan inilah hari-yang ditunggu-tunggu ketika dia bisa masuk sekolah barunya untuk pertama kali.
Dia memakai penompang di ketiak sebelah kanannya, tangan kirinya berpegangan pada tangga, dan kepalanya dibungkkus perban ketika dia berjalan menuruni koridor gedung.
[Dasar sial... dimana ruang staff?]
Dia ingin bertanya arah, tapi semua orang menjauh dari pandangannya, sebelum dia menyadarinya, Koremitsu berada di suatu tempat tanpa keberadaan seorangpun di aula.
Itu adalah halaman gedung yang luas, dimana pepohonan yang rindang tertata rapi, batu-batu beragam bentuk dan ukuran menghiasi pemandangan yang kehijauan, dan bahkan air yang berkilauan ada diantaranya.
Akademi Heian adalah sekolah yang terkenal menawarkan program integrasi dari TK sampai Universitas, dan menghabiskan banyak dana hanya untuk gedung sekolahnya saja.
Ketika musim dingin yang lalu, dia mendatangi ujian masuk Akademi Heian, dan terpukai akan kebersihan dan gedung sekolah tersebut. Dia berpikir ketika dia bisa masuk sekolah yang prestisius, dia tidak harus bertemu kakak kelas yang menggila tanpa sebab dan menodongkan pisau dari seragam yang dimodifikasi, dan dia bisa membanyangkan berteman dengan teman-teman kelasnya.
Namun, orang-orang menjaga jarak darinya ketika Koremitsu memasuki sekolah barunya untuk pertama kalinya, dan bahkan akhirnya tersesat.
Sial... semua orang menilai orang lain dari penampilannya.
Mereka berkata orang tuaku mendaftarkanku ke sekolah ini atas koneksi mafia, aku yang berkelahi dengan pasukan berandalan dari sekolah lain dan nyaris membunuh mereka semua, dan aku dirawat di rumah sakit sebagai hasilnya.
Hei, aku bisa dengar ejekan kalian! Jika kau ingin menghinaku seperti itu, lakukan di tempat dimana aku tidak bisa dengar, OK!? Aku pantas diperlakukan dengan sedikit sopan, kalian dengar itu!?
Dengan jengkel, dia menuruni koridor, penopangnya berbunyi setiap dia berjalan dengan cepat.
Terlihat seseorang berdiri di bayangan pilar di depannya.
Orang itu hanya berdiri disana, dan terlihat dia bersandar di pilar. dia memakai blazer dan celana panjang - apa dia laki-laki?
Cahaya matahari pagi yang bersinar atrium menyinari rambut yang lembat, yang berkilauan keemasan.
Kenapa seseorang berdiri di sana sepagi ini?
bagaimanapun, Koremitsu merasa terselamatkan oleh kehadiran orang itu.
Dia ingin mendekati mereka untuk bertanya kantor berada, tapi mereka menjauh dari Koremitsu sebelum dia mulai.
Hah? seorang gadis?
Seseorang dengan wajah yang lemah lembut, dan kebingungan yang dialami Koremitsu. Dia bertanya-tanya kenapa seorang gadis memakai seragam laki-laki.
Tidak, tunggu, dia benar-benar laki-laki,khan?
Matanya yang jernih menipis, dan senyum yang hangat dari wajah yang sangat ramah. bibir lembut orang itu mulai bergerak.
[Akagi-san]
Sebuah suara yang sangat lembut.
Suaranya yang penuh daya tarik, terdengar di telinga dengan lembut dan ramah, hampir seperti menembus setiap inti dirinya. Koremitsu tiba-tiba membeku.
[Kau siswa kelas satu, Koremitsu Akagi-san. Ini pertama kalinya kau mendatangi sekolah, khan?]
[....bagaimana kau tahu namaku?]
Koremitsu memandang laki-laki itu dengan seksama. Hikaru melanjutkan bertanya tanpa tanda-tanda ketidakjujuran.
[Semua siswa baru seperti dirimu menjadi buah bibir di sekitar sini. Kabarnya kau bertarung melawan sepasukan berandalan, menghajar sepuluh orang sampai nyaris mati, menjadi ketua geng ke-27 dan "Raja berandalan" yang legendaris. Selain itu juga luka-luka yang kau dapat menjadi tanda kehormatan dari pertarungan, khan?]
Tak seorangpun berani mendekati Koremitsu dan berbicara, tak seorangpun yang tidak takut padanya, bertatapan langsung dan menunjukkan senyum yang ramah.
Itulah kenapa Koremitsu merasa bingung daripada jengkel dipanggil ketua geng.
Untuk suatu alasan, bocah laki-laki itu merasa dia bisa berbicara dengan seseorang yang dijuluki ketua geng tanpa rasa khawatir...
Untuk seseorang yang terlihat seperti gadis, dia pasti punya nyali, huh? atau dia hanya bodoh? atau dia merencanakan sesuatu?
Koremitsu menceritakan kebenaran pada Hikaru, bahwa wajahnya yang garang adalah sesuatu yang sudah ada sejak lahir, bahwa luka-luka yang dimilikinya adalah akibat tertabrak truk, bahwa tidak ada ketua geng disekitar sini, dan dia bukanlah seorang berandalan.
[Lalu kenapa kau menghadang truk dengan tubuhmu?]
Dia ditanyai dengan sungguh-sungguh.
[.....sebuah kebetulan]
[Itu adalah kebetulan yang hebat]
[Itu tak bisa dihindari. itu hanya sebuah kebetulan]
[Hmm, tapi aku tidak berpikir menabrak sebuah truk adalah sesuatu yang terjadi secara kebetulan]
[....]
Dia benar-benar tidak ingin membicarakan tentang kecelakaan itu.
Bagi Koremitsu, yang tidak terbiasa berbicara dengan orang lain, cara berbicara laki-laki ini padanya sangat alami sampai-sampai membuatnya merasa keanehan di perutnya.
Sikap yang ditunjukkan laki-laki ini ketika melihatnya seperti dia melihat binatang langka pada di pameran, dan itu terasa menjijikan.
[... dimana ruangan staff?]
Koremitsu segera menanyakan maksud sebenarnya memulai pembicaraan dengan laki-laki ini mengakhiri keanehan yang menggugupkan nyalinya; tapi orang yang dimaksud terlihat tidak merisaukannya.
[Turun ke bawah, dan di ujung, belok ke kiri, lalu naik tangga, dan menuju lantai dua]
Dan dia bahkan membimbing Koremitsu.
[Oh, baiklah]
Bunyi dari penompang terdengar lagi, dan ketika mereka melewati satu sama lain, Koremitsu dipanggil sekali lagi.
[Akagi-san, aku lupa membawa buku teks musik klasik. bisa kau meminjamkan milikmu?]
Hah?
Koremitsu berhenti untuk berpikir sejenak.
[kenapa memintaku untuk meminjamimu buku teks secara tiba-tiba?]
Koremitsu berbalik, dan melihat orang tersebut memandangnya dengan matanya yang jernih.
[...Kelas kami tidak ada jadwal musik Klasik hari ini?]
Dia menjawab sambil mencoba menebak maksud orang itu.
[Eh, sayang sekali]
Dia merenung, memberikan senyuman yang penuh arti,
[Kalau begitu, aku akan datang ke kelasmu untuk meminjam buku teksmu lain kali, Akagi-san. Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu]
[Sesuatu yang ingin kau tanyakan kepadaku? Apa itu?]
Ini berkembang dari permintaan sederhana untuk meminjam buku teks menjadi permintaan untuk alasan pribadi, kecurigaan ini membuat Koremitsu mengerutkan dahinya.
[Aku Hikaru Mikado dari Kelas 1. Sampai jumpa lagi]
Dia melambaikan tangannya dan berjalan ke luar gedung.
Gambaran dari senyuman yang cerah itu, senyuman yang dia pikir secerah matahari, tertanam kuat di pikiran Koremitsu.
[Kyaahh! Hikaru-sama!] [Selamat pagi, Hikaru-sama!] sorakan gembira "para gadis" bisa terdengar dari sisi lain taman.
Koremitsu hanya bisa terpaku mendengar teriakan yang bergema dari kejauhan.
Itu adalah seminggu yang lalu.
Seminggu kemudian, koremitsu, yang sudah melepas tongkat dan penopangnya, melihat para gadis menangis dan bersedih ketika dia memasuki sekolah, dan mendengar kabar bahwa "Hikaru-sama telah meninggal".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar