Chapter 1 - Bukankah Kau sudah Mati?
Part 2
Ada beberapa orang di dunia
ini yang mudah disalah pahami.
Lima belas tahun sudah
Koremitsu Akagi mengalami ketidak beruntungan dikarenakan penampilannya.
Dia terlihat seperti
termenung setiap saat, matanya selalu tertunduk dan terlihat arogan dan
merendahkan, mulut yang melengkung kebawah tanda ketidakbahagiaan.
Dia memiliki wajah yang kaku
dan tidak menunjukkan keramahan. Penampilannya tidak menyenangkan - kerutan
yang tajam, punggung yang membungkuk, badannya yang kurus, dan rambut merah
kocaklatan yang tidak tertata membuatnya terlihat seperti seharusnya anak berandalan.
Dia selalu menjadi tempat
kesalah pahaman seiring bertambahnya usia.
Ketika dia masih di TK, para
siswa ketakutan pada ekpresi liar Koremitsu dan selalu menjauhinya dari
pergaulan. Ketika upacara penerimaan di SD, gadis-gadis yang duduk disebelah
Koremitsu tiba-tiba pingsan, dan anak-anak lain didekatnya mulai menangis
setelahnya, menyebabkan kegaduhan oleh anak-anak yang menangis.
Ketika SMP, Koremitsu
terlibat masalah dengan beberapa kakak kelas yang membolos kelas di sudut
sekolah. ketika ingin menjauh dari mereka, dia secara tidak sengaja memperoleh
julukan " Raja petarung", "Raja berandalan", dan julukan
yang lainnya. Dengan julukan itu, dia mulai dilihat sebagai seseorang yang
berbahaya. Sebagai hasilnya, Koremitsu tidak dapat memiliki teman di SMP.
Dan kemudian, pada saat
upacara kelulusan yang tak terlupakan.
Ketika teman-teman kelasnya
menangis sambil berpamitan satu sama lain, Koremitsu diasingkan oleh mereka,
dan ditinggalkan sendiri diantara pohon sakura. Disana dia berpikir, "aku
tidak bisa membiarkan ini berlanjut."
Ketika Koremitsu memasuki
SMA, dia memprioritaskan memulai pertemanan yang baru untuk menghindari rasa
sakit dipanggil "Iblis merah", "Pembawa bencana",
"Anjing Liar", dan lainnya.
Itu yang yang dia putuskan.
Meski begitu, pada hari
sebelum upacara penerimaan sekolah, Koremitsu tertabrak Truk di persimpangan
jalan yang ramai lalu lintas, dan menemukan dirinya dirawat di rumah sakit
selama sebulan untuk pemulihan.
Setelah kecelakaan, bibi
Koremitsu, yang sekaligus walinya, menggila.
[kenapa kau bisa terlibat
masalah satu demi satu! ini keajaiban kau bisa lulus ujian masuk sekolah swasta
yang prestisius, dan kau mengacaukannya dengan tidak menghadiri upacara
penerimaan karena di rumah sakit? bahkan siswa SD tidak berlari ketika
menyebrang jalan!]
Dan terus menunjukkan
kemarahannya.
Koremitsu akhirnya bisa
keluar dari kehidupan suram di ranjang rumah sakit, dan inilah hari-yang
ditunggu-tunggu ketika dia bisa masuk sekolah barunya untuk pertama kali.
Dia memakai penompang di ketiak
sebelah kanannya, tangan kirinya berpegangan pada tangga, dan kepalanya
dibungkkus perban ketika dia berjalan menuruni koridor gedung.
[Dasar sial... dimana
ruang staff?]
Dia ingin bertanya arah,
tapi semua orang menjauh dari pandangannya, sebelum dia menyadarinya, Koremitsu
berada di suatu tempat tanpa keberadaan seorangpun di aula.
Itu adalah halaman gedung
yang luas, dimana pepohonan yang rindang tertata rapi, batu-batu beragam bentuk
dan ukuran menghiasi pemandangan yang kehijauan, dan bahkan air yang berkilauan
ada diantaranya.
Akademi Heian adalah sekolah
yang terkenal menawarkan program integrasi dari TK sampai Universitas, dan
menghabiskan banyak dana hanya untuk gedung sekolahnya saja.
Ketika musim dingin yang
lalu, dia mendatangi ujian masuk Akademi Heian, dan terpukai akan kebersihan
dan gedung sekolah tersebut. Dia berpikir ketika dia bisa masuk sekolah yang
prestisius, dia tidak harus bertemu kakak kelas yang menggila tanpa sebab dan
menodongkan pisau dari seragam yang dimodifikasi, dan dia bisa membanyangkan
berteman dengan teman-teman kelasnya.
Namun, orang-orang menjaga
jarak darinya ketika Koremitsu memasuki sekolah barunya untuk pertama kalinya,
dan bahkan akhirnya tersesat.
Sial... semua orang menilai
orang lain dari penampilannya.
Mereka berkata orang tuaku
mendaftarkanku ke sekolah ini atas koneksi mafia, aku yang berkelahi dengan
pasukan berandalan dari sekolah lain dan nyaris membunuh mereka semua, dan aku
dirawat di rumah sakit sebagai hasilnya.
Hei, aku bisa dengar ejekan
kalian! Jika kau ingin menghinaku seperti itu, lakukan di tempat dimana aku
tidak bisa dengar, OK!? Aku pantas diperlakukan dengan sedikit sopan, kalian
dengar itu!?
Dengan jengkel, dia menuruni
koridor, penopangnya berbunyi setiap dia berjalan dengan cepat.
Terlihat seseorang berdiri
di bayangan pilar di depannya.
Orang itu hanya berdiri
disana, dan terlihat dia bersandar di pilar. dia memakai blazer dan celana
panjang - apa dia laki-laki?
Cahaya matahari pagi yang
bersinar atrium menyinari rambut yang lembat, yang berkilauan keemasan.
Kenapa seseorang berdiri di
sana sepagi ini?
bagaimanapun, Koremitsu
merasa terselamatkan oleh kehadiran orang itu.
Dia ingin mendekati mereka
untuk bertanya kantor berada, tapi mereka menjauh dari Koremitsu sebelum dia
mulai.
Hah? seorang gadis?
Seseorang dengan wajah yang
lemah lembut, dan kebingungan yang dialami Koremitsu. Dia bertanya-tanya kenapa
seorang gadis memakai seragam laki-laki.
Tidak, tunggu, dia
benar-benar laki-laki,khan?
Matanya yang jernih menipis,
dan senyum yang hangat dari wajah yang sangat ramah. bibir lembut orang itu
mulai bergerak.
[Akagi-san]
Sebuah suara yang sangat
lembut.
Suaranya yang penuh daya
tarik, terdengar di telinga dengan lembut dan ramah, hampir seperti menembus
setiap inti dirinya. Koremitsu tiba-tiba membeku.
[Kau siswa kelas satu,
Koremitsu Akagi-san. Ini pertama kalinya kau mendatangi sekolah, khan?]
[....bagaimana kau tahu
namaku?]
Koremitsu memandang
laki-laki itu dengan seksama. Hikaru melanjutkan bertanya tanpa tanda-tanda
ketidakjujuran.
[Semua siswa baru seperti
dirimu menjadi buah bibir di sekitar sini. Kabarnya kau bertarung melawan
sepasukan berandalan, menghajar sepuluh orang sampai nyaris mati, menjadi ketua
geng ke-27 dan "Raja berandalan" yang legendaris. Selain itu juga
luka-luka yang kau dapat menjadi tanda kehormatan dari pertarungan, khan?]
Tak seorangpun berani
mendekati Koremitsu dan berbicara, tak seorangpun yang tidak takut padanya,
bertatapan langsung dan menunjukkan senyum yang ramah.
Itulah kenapa Koremitsu
merasa bingung daripada jengkel dipanggil ketua geng.
Untuk suatu alasan, bocah
laki-laki itu merasa dia bisa berbicara dengan seseorang yang dijuluki ketua
geng tanpa rasa khawatir...
Untuk seseorang yang
terlihat seperti gadis, dia pasti punya nyali, huh? atau dia hanya bodoh? atau
dia merencanakan sesuatu?
Koremitsu menceritakan
kebenaran pada Hikaru, bahwa wajahnya yang garang adalah sesuatu yang sudah ada
sejak lahir, bahwa luka-luka yang dimilikinya adalah akibat tertabrak truk,
bahwa tidak ada ketua geng disekitar sini, dan dia bukanlah seorang berandalan.
[Lalu kenapa kau menghadang
truk dengan tubuhmu?]
Dia ditanyai dengan
sungguh-sungguh.
[.....sebuah kebetulan]
[Itu adalah kebetulan yang
hebat]
[Itu tak bisa dihindari. itu
hanya sebuah kebetulan]
[Hmm, tapi aku tidak
berpikir menabrak sebuah truk adalah sesuatu yang terjadi secara kebetulan]
[....]
Dia benar-benar tidak ingin
membicarakan tentang kecelakaan itu.
Bagi Koremitsu, yang tidak
terbiasa berbicara dengan orang lain, cara berbicara laki-laki ini padanya
sangat alami sampai-sampai membuatnya merasa keanehan di perutnya.
Sikap yang ditunjukkan
laki-laki ini ketika melihatnya seperti dia melihat binatang langka pada di
pameran, dan itu terasa menjijikan.
[... dimana ruangan staff?]
Koremitsu segera menanyakan
maksud sebenarnya memulai pembicaraan dengan laki-laki ini mengakhiri keanehan
yang menggugupkan nyalinya; tapi orang yang dimaksud terlihat tidak merisaukannya.
[Turun ke bawah, dan di
ujung, belok ke kiri, lalu naik tangga, dan menuju lantai dua]
Dan dia bahkan membimbing
Koremitsu.
[Oh, baiklah]
Bunyi dari penompang
terdengar lagi, dan ketika mereka melewati satu sama lain, Koremitsu dipanggil
sekali lagi.
[Akagi-san, aku lupa membawa
buku teks musik klasik. bisa kau meminjamkan milikmu?]
Hah?
Koremitsu berhenti untuk
berpikir sejenak.
[kenapa memintaku untuk
meminjamimu buku teks secara tiba-tiba?]
Koremitsu berbalik, dan
melihat orang tersebut memandangnya dengan matanya yang jernih.
[...Kelas kami tidak ada
jadwal musik Klasik hari ini?]
Dia menjawab sambil mencoba
menebak maksud orang itu.
[Eh, sayang sekali]
Dia merenung, memberikan
senyuman yang penuh arti,
[Kalau begitu, aku akan
datang ke kelasmu untuk meminjam buku teksmu lain kali, Akagi-san. Ada sesuatu
yang ingin kutanyakan padamu]
[Sesuatu yang ingin kau
tanyakan kepadaku? Apa itu?]
Ini berkembang dari
permintaan sederhana untuk meminjam buku teks menjadi permintaan untuk alasan
pribadi, kecurigaan ini membuat Koremitsu mengerutkan dahinya.
[Aku Hikaru Mikado dari
Kelas 1. Sampai jumpa lagi]
Dia melambaikan tangannya
dan berjalan ke luar gedung.
Gambaran dari senyuman yang
cerah itu, senyuman yang dia pikir secerah matahari, tertanam kuat di pikiran
Koremitsu.
[Kyaahh! Hikaru-sama!]
[Selamat pagi, Hikaru-sama!] sorakan gembira "para gadis" bisa
terdengar dari sisi lain taman.
Koremitsu hanya bisa terpaku
mendengar teriakan yang bergema dari kejauhan.
Itu adalah seminggu yang
lalu.
Seminggu kemudian,
koremitsu, yang sudah melepas tongkat dan penopangnya, melihat para gadis
menangis dan bersedih ketika dia memasuki sekolah, dan mendengar kabar bahwa
"Hikaru-sama telah meninggal".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar