Chapter 1 Bukankah Kau sudah Mati?
Part 4
[wow! Chabudai*. ternyata
masih ada di Jepang]
ketika koremitsu, Koharu,
dan kakek sedang makan malam di ruang makan, Hikaru terlihat seperti seorang
pangeran yang memasuki rumah orang biasa dengan sangat penasaran melayang di
sekeliling rumah. Dia akan berseru kapanpun dia melihat sesuatu, dan akan mengamati
dengan mata terbuka lebar, tanpa menoleh dan memberikan senyum.
[Ah, Ubinya sudah masak! itu
telihat sangat lezat ~sangat nikmat. Itu terlihat memiliki sentuhan keibuan.
aku ingin mencobanya juga~]
Koremitsu, yang mulai
memegang sumpit untuk dibasahi dengan lidahnya, merasa selera makannya hilang
dengan tatapan mata memelas dari tengah meja.
Bukankah kau hantu? kau
tidak bisa makan.
Koremitsu ingin bicara, tapi berhenti setelah
melihat Koharu dan kakeknya melanjutkan makan mereka dengan ekspresi seperti
biasanya.
Sepertinya kakek dan Koharu
benar-benar tidak bisa melihatnya.
Bukti-bukti yang ada tentang
situasinya saat ini menyebabkan sakit kepala pada Koremitsu.
[Hei, Lembaran Kaligrafi ini
ditulis dengan sangat ahli. Siapa yang menulisnya?]
Kakek
[Apa maksud dari dekorasi
Rakun ini?]
Siapa yang tahu?
[Ah, pintu geser ini
dilapisi dengan Washi sejenis kertas jepang. Bisa digunakan untuk kesenian
apapun. Ah, disini juga! apa kau membuatnya sendiri? kau pasti sangat
terampil.]
Jangan berteriak untuk hal-hal
sepele.
Memegang sumpitnya sekali
lagi, dia menyeringai ke arah Hikaru.
[Koremitsu, apa yang kau
lihat dari tadi?]
Koharu bertanya bukan untuk
mendapat jawaban tapi untuk memberi peringatan pada Koremitsu. Kakek Koremitsu,
yang terlahir sebelum masa perang, juga menasihatinya.
[Jangan menyisakan nasi. kau
akan mendapat hukuman dewa.]
Koremitsu merinding di
lehernya.
Hikaru sementara itu sedang
mengagumi pintu geser dengan sangat terpesona, [ Ah, ini dilapisi dengan
chiyogami...]
Koremitsu berpikir ini semua
adalah salah Hikaru.
[Akagi-san, boneka Kokeshi!
boneka-boneka Kokeshi tersusun rapi. Apa kau yang mengoleksinya? mereka sangat
imut! mata yang sipit sungguh bentuk dari kecantikan Jepang]
Hikaru sekali lagi bergumam
dengan sangat semangat.
Diam kau! Kau sudah mati!
Koremitsu berhenti bicara
dan menahan kekesalannya sekali lagi pada hari itu.
Dia akan kena masalah jika
Hikaru berdiam di ruang rumahnya sebagai hantu penasaran yang mencari dendam.
Selain itu, dia merasa perlu
mengalihkan Hikaru dari pandangannya, membuat Koharu dan kakeknya lebih salah
paham padanya.
Koremitsu biasanya makan
lebih pada makan malam, tapi kemewahan itu harus dilupakan sejenak.
[Aku pergi dulu]
Dia bergumam lirih, [kenapa
bertingkah sok keren hanya untuk kembali ke kamarmu sendiri? kau ingin
menghajar Yakuza atau semacamnya?]
Koharu membentaknya.
[Pertama-tama, duduk dulu
sebelum kita mulai beres-beres]
Koremtsu kembali ke
kamarnya, menutup pintu, membentangkan alas duduk di tatami. dan menyuruh
Hikaru mendekat.
[Akagi-san, aku senang kau
menyuruhku duduk juga, tapi kurasa tidak ada pengaruhnya memberiku alas duduk .
meski begitu aku tahu maksudmu]
Hikaru menekuk lututnya
diatas alas duduk sementara dia melayang di udara.
Koremitsu mulai berbicara.
[SIAPA YANG MENGUNDANGMU
DISINI!? BULU KUDUKKU BERDIRI KETIKA KAU MELAYANG DI DEPANKU. SETIDAKNYA TARUH
KAKIMU - tidak, tunggu, lutut di lantai - TERSERAH, JIKA KAU INGIN AKU
MENDENGARMU, KAU SEBAIKNYA BERSUNGGUH-SUNGGUH MEMOHON PADAKU]
Wajah Koremitsu berubah
warna ketika dia berteriak.
[Ok, aku paham]
Tanpa diduga, Hikaru
berlutut di lantai dan merapatkan lututnya untuk duduk dengan benar di alas
duduk.
Bahkan, dia duduk
"Seiza", dan punggungnya terlihat lebih tegap daripada Koremitsu,
yang duduk dengan punggung yang membungkuk. Itu sangat sempurna selain dari
fakta bahwa alas duduknya tidak tenggelam sama sekali.
[Apa ini sudah baik? Apa kau
mau mendengarku sekarang?]
Hikaru menunjukkan senyum
lembut andalannya.
Bagaimana aku mengatakannya?
Orang ini.... bisa-bisa mengacaukan ritmeku/hidupku.
Koremitsu berpikir sambil
menyilangkan kakinya di lantai.
[Baik, Aku akan
mendengarkanmu sekarang]
[Jika memungkinkan, aku
harap kau bisa membantuku juga. Sebenarnya, ada seorang gadis yang aku tidak
bisa kulupakan dari hatiku. Ulang tahunnya sebentar lagi, dan pada hari
terakhir saat Golden Week, aku mengirim surat yang ditempeli dengan Lilak ke
rumahnya.]
Kenapa harus menggunakan tangkai tanaman untuk mengikat surat? Tidak
bisakah kau mengiriminya sebuah SMS?
Koremitsu terlihat bingung.
Kemudian, mata dan bibir
Hikaru seperti memancarkan kelembutan.
Pada surat itu, dia menulis,
[Ini adalah hadiah pertama.
Aku menyiapkan 6 hadiah lain untuk ulang tahunmu. Tunggulah pada saatnya]
Apa wanita sangat serakah
sampai-sampai tidak puas bila tidak mendapatkan 7 hadiah? Bukankah kau harus
menghabiskan banyak uang jika kau ingin memberikan 7 hadiah untuk setiap ulang
tahun? Sebelum membicarakan itu, bagaimana bisa kau memikirkan 7 hadiah apa
yang ingin kau berikan?
Bagi Koremitsu, memberi
hadiah pada wanita adalah konsep dari dimensi lain.
Tapi Hikaru menunjukkan
ekspresi yang melankolis di matanya.
[Seperti yang kau lihat, aku
sudah mati, dan aku tidak bisa memenuhi janjiku. maukah kau menggantikanku
menyerahkan hadiahku padanya?]
[Jadi, kau memintaku
melakukan sesuatu yang berkaitan dengan perempuan]
[Ya, bagiku, dia seorang
gadis yang sangat penting]
Alis mata Hikaru naik ketika
dia menunjukkan pesonanya yang lembut dan manis. kontas dengan Koremitsu yang
menunjukkan ekspresi tidak senang.
[Aku tidak mau melakukannya]
[Eh....!? tu-tunggu, apa kau
tidak menolakku terlalu cepat, Akagi-san?]
Ini untuk pertama kalinya
bagi Hikaru, yang terlihat sangat santai bahkan setelah menjadi hantu,
menunjukkan tanda kebimbangan.
Koremitsu tetap teguh, [aku
tidak akan membicarakan permohonan terkait dengan wanita]
[Kenapa!?]
[kakek berkata padaku jangan
dekat-dekat dengan para gadis]
[Apa artinya itu?]
[20 tahun lalu, istrinya -
nenekku- berkata bahwa dia ingin memulai hidup baru, dan meninggalkan surat
cerai sebelum dia pergi.]
Semenjak apa yang terjadi
padanya, kakeknya selalu bergumam [ Wanita semuanya sama saja] dan dia selalu
bersilang pendapat dengan bibi Koremitsu, Koharu yang telah bercerai yang
selalu mengatakan sesuatu yang sama [Pria semuanya sama saja]. Menurut Koharu,
ini sudah bisa ditebak bahwa nenek Koremitsu tidak bisa menghadapi kakeknya.
[Ini....ini pasti sebuah
kejutan besar bagi kakekmu, tapi nenekmu tidak bisa disebut mewakili seluruh
wanita]
[Ketika aku kelas 1 SD,
wanita yang kupanggil Ibuku meninggalkan Ayahku dan diriku, dan lari dengan
laki-laki lain]
[Uw!]
Hikaru tiba-tiba tidak bisa
berkata apa-apa.
[Dan juga, Laki-laki yang
bersamanya adalah wali kelasku sendiri]
[Ehh..]
[Dan lalu, setengah tahun
kemudian, Ayahku meninggal karena serangan jantung]
[Be-begitu rupanya. kau
pasti sangat tegar. A..Ayahmu pasti menderita mengalami sebuah tragedi juga...
tapi pacarku tidak akan memberiku surat cerai atau lari dengan laki-laki lain.
Ini tidak seperti aku menyuruhmu berpacaran atau menikah dengannya. aku hanya
ingin kau mengiriminya hadiah pada hari ulang tahunnya, dan kemudian aku bisa
pergi ke surga dengan bahagia. Lihat, ini akan sangat merepotkan jika aku tetap
menempel padamu setiap saat, khan?]
Arti tersembunyi dari
kata-kata itu adalah bahwa Hikaru mengancam Koremitsu dengan akan selalu
menghantuinya sebelum permintaannya dipenuhi. Hikaru terus menunjukkan ekspresi
yang memelas.
[Kumohon...? ini adalah
janji yang sangat penting. Aku tidak memiliki teman, jadi aku hanya bisa
memintamu, Akagi-san]
[Kau mengatakan bahwa kau
tidak memiliki teman? Teruslah mencoba kau menipuku. Bukankah kau seseorang yang
sangat terkenal dalam pergaulan?]
Dia terlahir dengan
penampilan yang mempesona, dan kepribadiannya sangat menyejukkan. Dia juga
seorang "Pangeran" di sekolah, seseorang yang dikelilingi banyak
penggemar. Bagi Koremitsu, ini sesuatu yang sangat menjengkelkan seseorang
seperti dia bisa berkata mereka 'tidak memiliki teman'.
Bagaimana orang yang pandai bicara seperti dia mengerti rasa sakit
ditinggal sendirian ketika guru menyuruh murid-muridnya “membentuk pasangan”
pada saat kelas Olahraga atau kesenian.
Semua orang menjauh dariku seperti laba-laba ketika aku berjalan,
menanyakan arah menuju ruang guru. Tak seorangpun yang bisa kuajak bicara
ketika jam istirahat, aku kesulitan menghabiskan waktu istirahat 10 menit itu,
dan aku hanya bisa menggunakan waktu itu untuk belajar. Bagaimana seorang tuan
muda yang naif sepertimu mengerti rasa sakit terasingkan?
Meski begitu, Hikaru
menurunkan bahunya sambil bergumam sedih.
[Memang benar… aku selalu
populer diantara para gadis bahkan sejak aku masih TK, dan semua gadis di
kelasku ingin menjadi pacarku. Pada saat pertemuan kelas, mereka berdiskusi,
yang berkesimpulan “Hikaru untuk semua orang, tak seorangpun boleh berpacaran
dengannya” dan semuanya setuju.]
…Apa dia mencoba pamer? Ngomong-ngomong, murid-murid SD memang
menjengkelkan ketika menggunakan suara mayoritas untuk memutuskan sesuatu.
Lebih jauh Koremitsu
mendengar, lebih jauh lagi bibirkan ditekuk.
[Tapi karena itu, semua
laki-laki selalu menjauhiku]
Mendengar itu, telinga
Koremitsu tiba-tiba terperanjat.
Kau….dijauhi?
[Sama saja ketika saat kelas
Olahraga. Tak seorangpun mau berpasangan denganku]
Telinga Koremitsu
terperanjat lagi.
[Sama saja ketika aku masuk
SMP. Aku dipanggil oleh sekelompok anak laki-laki ke belakang gedung olahraga,
mereka berkata bahwa aku merebut pacar mereka. Mereka mencari masalah
denganku….menyebarkan rumor jelek sampai-sampai tak seorang laki-lakipun di
kelas yang mau bicara padaku..]
Koremitsu membanyangkannya
dan merasakan sakit di dadanya, seperti ada menusuknya.
Dia mengerti lebih dari
siapapun rasa sakit diasingkan karena rumor yang tidak jelas.
Dia mengingat kembali
bagaimana dia harus makan siang sendiri ketika masa istirahat, dia mengingat
kembali bagaimana dia diam menggerakkan sumpitnya sementara mendengar canda
ttawa dan percakapan teman-teman kelasnya. Dia mengingat kembali orang-orang
hina yang sangat membosankan dan selalu mencorat-coret mejanya, memanggilnya
dengan nama “Sam” dan “John” dan sebagainya.
Setiap kali dia mengingat
itu, matanya terasa pedih.
Jadi begitu? Jadi orang ini mengerti rasa sakit itu?
Jadi dia selalu mengalami hari-hari yang buruk?
Dia ingin memenuhi sebuah janji pada seorang gadis yang tak bisa dia
lepaskan dari hatinya, tapi dia tidak memiliki teman. Dia sangat kesepian
sampai-sampai hanya bisa bergantung padaku.
Jadi begitu? Jadi begitu rupanya?
Ini sangat tak tertahankan, dasar sial.
[Ji….Jika begitu
keadaannya…aku akan membantu mengantikanmu memberikan hadiah itu]
Koremitsu mengedipkan matanya
dan menoleh kesamping dan mengatakan ini dengan tegannya.
Mendengar ini, Hikaru merasa
puas dan berkata,
[Terima Kasih! Aku tahu kau
akan membantuku, Akagi-san, sungguh-sungguh aku berterima kasih]
Kata-kata yang dipenuhi
keanggunan dan kepercayaanini menyebabkan sesuatu yang panas di tenggorokannya.
[Aku akan pergi… ke toilet]
Dia mengangukkan kepalanya
dan segera meninggalkan ruangan supaya tak seorangpun melihat air mata di
kelopak matanya.
Dia membuka pintu toilet,
menghapus air mata dengan jarinya, mendesah, melepas celana tidurnya sekaligus
dengan celana dalamnya…
[!]
Tapi terlihat Hikaru dengan
ekspresi meminta maaf melayang diatas langit-langit toilet.
[WOAH!? KENAPA KAU
MENGIKUTIKU KESINI!? DAN KAU BAHKAN MELIHAT PUNYAKU! APA KAU SEORANG MESUM!?]
[Aku melihat keduanya depan
dan belakang tadi ketika kau masuk kamar mandi]
Di wajah keterkejutan
Koremitsu, Hikaru mendesah ringan dan menunjukkan ekspresi serius, berkata,
[Ada sesuatu yang tidak
mengenakkan yang harus kusampaikan padamu]
Ap..Apa itu?
Koremitsu menahan napas
sambil dia mendengarkan, dan Hikaru mencoba yang terbaik agar dia tidak
terkejut dan dengan tenang menjelaskan.
[Sepertinya kemanapun kau
pergi, aku akan ikut terbawa bersamamu. Jadi hiraukan saja aku dan lanjutkan]