Rabu, 19 Oktober 2016

Volume 1 Chapter 1 - Part 3

Chapter 1 Bukankah Kau sudah Mati?
Part 3



Pada akhirnya, Mikado tidak pernah meminjam buku teks dariku, dan kita hanya berbicara satu kali.
Jalanan sangat gelap, dan hujan menyebabkan pandangan Koremitsu menjadi kabur ketika dia pulang ke rumah.
Dia berpikir tentang situasi Hikaru sejak saat dia meninggalkan tempat pemakaman.
Tidak ada sesuatu yang bisa kulakukan...
Pertemuan mereka membawa dampak besar pada Koremitsu, dan peristiwa di pemakaman memberi dampak lebih.
Tetap saja, Koremitsu tidak memahami sama sekali tentang seorang yang bernama Hikaru Mikado. Koremitsu masih teringat pada sikapnya, kesungguhannya dan senyumannya, itu semua menjadi teka-teki.
Orang seperti apa Hikaru itu sebenarnya?
 Jika orang itu tidak mati, Jika dia masih hidup...akankah dia benar-benar datang untuk meminjam buku teksku?
Dia akan membuka pintu kelas dengan keras, memberikan senyuman yang cerah,
"Akagi-san! Aku lupa buku teksku!"
Dan itu pasti diucapkan dengan nada yang lembut,kupikir?
Gambaran ini sekilas terlintas di pikiran Koremitsu, dan jauh dalam dirinya terbakar dengan sensasi terpenjara. Mungkin ini adalah sedikit kesedihan yang dimilikinya untuk seorang berusia 15 tahun yang hidupnya harus berakhir.
Hujan semakin deras.
Rumah kayu yang dibangun kakeknya berada jauh dari pusat kota, sebuah tempat yang difungsikan sebagai rumah kaligrafi. Ketika dia sampai, rambut merah acak-acakannya menempel di kelopak mata dan telinganya.
Dia membuka pintu depan, dan pintu masuk bibinya Kohaku sedang berdiri, membawa beberapa garam mentah.
[Koremitsu, berbalik ke belakang!]
Dia menyuruhnya dengan tegas.
Koharu biasanya berpakaian jersey dengan lengan digulung dan kemeja, rambutnya terikat rapi kebelakang dengan anggun. Seorang yang bercerai, dia pulang ke rumah dari pekerjaannya di tempat belanja on-line di internet. Saat ini, Dia, Koremitsu dan dan kakeknya yang tinggal bersama-sama.
Koremitsu mengikuti apa yang dia katakan dan berbalik, dan kemudian, suara garam yang disebar padanya terdengar.
Bukankah ini terlalu banyak hanya untuk penyucian? apa kau ingin menjadikan ikan asin?!
Meski dia berpikir begitu, dia tetap diam menyadari fakta bahwa kewenangan tertinggi di rumah ini sudah berpindah dari kakeknya ke bibinya, dia memilih untuk tetap diam.
[Baiklah, berbalik sekali lagi]
Dia berbalik, dan garam dalam jumlah banyak berserakan di kakinya. Pakaiannya yang sudah basah bercampur dengan butiran garam.
[Air di pemandian sudah mendidih. Pergi mandi. Setelah selesai, makan malam,dan jangan keluyuran]
Dia berbicara dengan nada yang maskulin.
Tiba-tiba, ada gelak tawa dari belakang.
[Kakak Akagi-san terlihat sangat garang dan menarik. Dan sepertinya di mirip denganmu]
Umm..?
ketika itu, dia menghentikan langkahnya.
Ada apa ini?
Dia berpikir dia mendengar suara yang tidak biasa disini..
Tidak, aku pasti salah dengar.
Koremitsu pikir dia kelelahan karena dia tidak terbiasa menghadiri upacara pemakaman. Mengambil handuk yang disiapkan Koharu, dia menaruhkan di kepala dan menuju kamar mandi.
Setelah berendam di bak mandi, badannya akan terasa nyaman, dan pikirannya menjadi jernih.
Dia melepaskan blazernya, melepaskan kancing baju yang basah dan tidak nyaman, dia melepas celana panjangnya.
Pada saat dia membuka pintu kaca kamar mandi, dia mendengar suara yang lembut sekali lagi.
[Heh.. kau terlihat kurus, tapi otot-tot itu membuatmu terlihat berbeda dariku. suadah kuduga dari raja berandalan]
aku bukan berandalan.
Tidak, sebelum menjawab, siapa orang yang baru saja bicara padaku?
Suara kakeknya tidak semuda ini, dan suaru ini terlalu lembut bagi Koharu.
[Jika aku bertelanjang sekarang, kebanyakan dari mereka berkata bahwa aku cantik, seperti seorang gadis dan memiliki kulit seputih susu dan sebagainya. Itu sangat menyakiti kebanggaanku sebagai pria]
Suara itu terdengar memuji penampilannya terdengar ditelinga Koremitsu.Suara lembut ini terdengar mirip dengan suara laki-laki yang dia dengar ketika mereka bertemu di koridor sekolah.
 Meski begitu, laki-laki itu seharusnya sudah mati beberapa hari yang lalu; Koremitsu menghadiri pemakamannya hari ini, dan bahkan ikut membakar dupa.
[Lenganmu juga terlihat ramping, tapi mereka sangat kokoh. Itu ukuran ideal yang kuinginkan.]
Bisakah halusinasi berlangsung selama ini?
Suara itu terasa sangat jelas, seperti terdengar dari atas kepalanya
tanpa sengaja, Koremitsu menolehkan kepalanya ke arah suara itu, dan sesaat kemudian, berteriak.
[UWWAAAHHHHH!!!???]
bagaimana!? laki-laki dengan wajah malaikat itu- memakai seragam sekolah! Hikaru Mikado!
Di langit-langit kamar mandi! dikelilingi uap!
Dia melayang di udara!
[Uh huhh? apa kau bisa melihatku disini , Akagi-san?]
Dengan kemungkinan yang terjadi, tubuh Hikaru yang melayang bersorak.
Rambutnya, terlihat keemasan dengan cahaya sebagaian menembus belahannya, terangkat angin sepoi-sepoi dan bergerak lembut diatas kepala Hikaru yang kecil.
Koremitsu meraih ujung dari bathtub, mulutnya masih menganga... dagunya seperti mau jatuh ke tanah. Hikaru seketika melebarkan matanya melihat ke arahnya. Sosok Hikaru yang terlihat seperti malaikat yang turun ke bumi bagi Koremitsu. Jika dia mengganti seragamnya dengan kimono mandi, cahaya yang berkilauan dapat memberi efek yang menyilaukan.
Koremitsu memandang mata Hikaru, tergagap dalam ketidakpercayaannya pada semua ini.
[Bu...bukankah kau sudah mati...?]
Tanpa pemberitahuan, bibinya Koharu membuka pintu kaca  dan berteriak dalam kamar mandi.
[Ada apa Koremitsu!?Apa kau jatuh dan kepalamu terbentur? jangan bilang kau harus dirawat  di rumah sakit lagi!]
Di tangan kanannya memegang pisau dapur, menunjukkan bahwa dia sedang mempersiapkan makan malam.
[Ko-Koharu...disitu...]
Koremitsu gemetaran sambil menunjuk ke arah langit-langit.
Ada seorang hantu dengan seragam sekolah melayang di depan mereka. Tidak diketahui apakah Hikaru sebenarnya ramah atau dia hanya memperlakukan para gadis dengan lembut, ketika dia menunjukkan senyuman pada Koharu.
Jika dia seorang gadis yang masih remaja, dia pasti akan meleleh seperti mentega. Suaranya terdengar jengkel dengan nada dipenuhi niat membunuh ketika dia  menyangkal Koremitsu karena kegaduhan yang disebabkannya.
[Hah!? Apa ada kecoa yang menempel padamu? Kau bukan perempuan. Jangan berteriak-teriak karena sesuatu yang kecil]
[Tidak bisakah kau lihat itu!?]
[Jadi, Aku tidak bisa melihat ada kecoa atau kelabang dari sini]
Bukankah ada seorang laki-laki memakai seragam sekolah disana!?
Dia ingin memberitahukan itu, tapi tidak jadi setelah melihat ekspresi Kohaku, mnunjukkan dia akan melayangkan pisau dapur padanya tanpa ragu.
Koharu menutup pintu kaca dan pergi.
[kau memiliki kakak perempuan yang galak]
Hikaru menyadari fakta bahwa senyumannya tidak efektif ketika mengatakan ini
Sementara itu, dalam pikiran Koremitsu.
Tetap tenang...tetap tenang...
Koremitsu terus mengulang-ulang kata itu ketika dia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Hikaru Mikado, yang seharusnya sudah mati, muncul di dalam kamar mandinya.
Dia mempunyai kaki, tapi tubuhnya melayang di udara.
Dan Hikaru tak terlihat oleh Koharu.
Koremitsu melihat ke arah cermin di dinding kamar mandi, terlihat hanya bayangan dirinya yang sedang telanjang di selimuti uap, dan melihat sekali lagi ke arah Hikaru.
Dia masih ada disitu.
Koremitsu sekali lagi melihat ke cermin.
Rambut merah, laki-laki kurus dengan tatapan yang tajam yang terlihat.
[Hi, Akagi-san]
Sebuah suara terdengar.
[!]
Koremitsu berbalik, melihat Hikaru dibelakangnya seperti hewan peliharaan yang siap bekerja dengan penuh gairah, dan dengan tenangnya berkata.
[Ini seperti yang kau duga, Akagi-san. Aku memang sudah mati. Inilah kenapa aku merasa aku adalah seorang hantu.]
Hikaru berhenti sejenak.
[Ya, ini pasti yang terjadi. Aku tidak yakin apa artinya menjadi hantu, tapi aku merasa menjadi sesuati yang lain. Aku merasa seperti mahluk fantasi dalam fiksi ilmiah, ini mungkin lebih baik. Kau pasti merasa begitu juga, khan, Akagi-san]
Apa yang baik dari itu? Bagaimana bisa kau yakin kau itu benar!? Seorang yang mati tiba-tiba muncul dihadapan orang yang masih hidup seperti fantasi bagimu!? Ini sebuah kenyataan, bukat imajinasi.
Koremitsu merasakan kekesalan di hatinya, tapi tidak mengungkapkannya.
Hanya sekali waktu dia percaya pada hantu adalah saat sebelum bersekolah – hasil dari ketidakdewasaan. Sebagai tambahan, bayangan di cermin tidak menunjukkan keberadaan Hikaru.
Koremitsu terjerat dalam konfik antara kewajaran dan yang dilihatnya.
[Sini, coba lihatlah]
Hikaru merentangkan tangannya yang putih ramping menyentuh Koremitsu. Tanganya menembusnya, dan kulit dan tulang menembus ke sisi yang lain.
Koremitsu menahan dengan kuat untuk menjerit. Dia tidak ingin melihat tangan seseorang menembus dirinya. Itu sangat tidak logis baginya. Dia merinding disekujur tubuhnya, seperti dirayapi kelabang di punggungnya.
Koremitsu memegang dadanya, menrik nafas dalam-dalam, dan berkata [M..Meskipun ini kenyataan, dan aku bukan hantu, meski kau seorang hantu, kenapa kau harus muncul di kamar mandiku?]
Mereka bukan teman.
Mereka bahkan bukan teman sekelas.
Mereka hanya berbicara satu kali di Heian.
Hikaru menatap dengan penuh perhatian pada Koremitsu.
[Ini tidak tiba-tiba. Aku terus bersamamu di upacara pemakaman. Aku memanggilmu ‘Akagi-san’ pada saat pemakaman, dan kau berbalik, ingat?]
Koremitsu terdiam mendengar kata-kata Hikaru.
Itu memang benar bahwa aku merasa seseorang memanggilku ketika aku pulang ke rumah. Jadi orang ini sudash melayang diatas kepalaku sejak saat itu!? Mungkinkah dia mengikutiku ketika aku pulang ke rumah!?
[Pada saat itu, aku mengira jika aku menempel padamu, Akagi-san. Tentu saja, itu sebuah misteri]
[Oi! Kenapa aku? Apa yang kulakukan sampai membuatmu dendam? Apa kau ingin menjadi ketua geng ke-27? Kau ingin bertarung denganku karena aku melampaimu? Apa kau berbicara denganku di koridor karena ini? Jika karena itu, aku akan memberikan posisi itu padamu. Kau boleh memanggil dirimu apapun yang kau inginkan. Atau aku bisa menuliskannya di batu nisanmu dengan pisau]
Dahi Koremitsu terihat tanda silang menunjukkan kejengkelan. Hikaru tersenyum dengan lembut dan menjawab.
[Tidak sama sekali. Aku tidak memiliki dendam padamu sama sekali.]
[Lalu kenapa?]
Koremitsu menatapnya, Hikaru melirik dengan malu-malu.
[Bukankah kita memiliki sebuah janji?]
[Huh?]
Koremitsu terbengong.
Janji apa?
[Aku ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu ketika aku akan meminjam bukumu.]
Senyum menawan terlihat di wajah Hikaru ketika menatap Koremitsu.
Koremitsu tidak memperdulikan ketidaknyamanannya dan dia mendekatkan tubuhnya ke arah Hikaru.
[Hei, Apa yang ingin kau tanyakan padaku?]
Bahkan sejak dia mendengar kematian Hikaru, Koremitsu terus terganggu karena hal itu, seperti ada duri yang menempel di tenggorokkannya.
Apa ada “sesuatu” yang Hikaru ingin sampaikan padanya?
Hikaru meminta sesuatu padanya, seseorang yang tidak dikenalnya, seseorang yang baru ditemuinya pertama kali.
Hikaru memohon pada Koremitsu, sesorang yang terkenal sebagai berandalan yang liar – seseorang yang dijauhi orang lain.
Senyum Hikaru menghilang, dan ekspresinya menjadi sedih. Dia memalingkan pandangannya dan terdiam akan pertanyaan Koremitsu.
[….]
Hei, kenapa dia tidak berkata apapun? Kenapa dia terlihat kecewa?
Koremitsu menjadi tidak sabar dengan ekspresi Hikaru yang terlihat tenang.
Dia merasa keringat dingin yang tidak nyaman ketika dia menunggu alasan dibalik kesunyian ini. Pada saat itu, Hikaru melekuk bibirnya, dan tersenyum tipis.
[Tentang itu… lupakan saja]
Dia berkata dengan lembut.
[Huh!? Apa artinya itu!?]
Nada suara Koremitsu tiba-tiba menjadi keras. Situasinya berkembang menjadi sesuatu yang Hikaru takutkan, karena jawaban yang dinginkan Koremitsu tidak seperti yang diharapkan.
[Jangan main-main denganku. Kau sebaiknya mengatakan yang sebenarnya]
Koremitsu menjadi jengkel dan Hikaru menepuk tangannya dan meminta maaf.
[Aku minta maaf. Sebenarnya, aku pikir aku sedikit hilang ingatan ketika aku mati. Aku tidak bisa mengingatnya sekarang]
Kau bercanda kan !?
Koremitsu menatapnya dengan tajam, Hikaru hanya bisa tersenyum.
[Meski begitu, ini sangat jarang memiliki janji, dan sebab kita bertemu lagi setelah kematianku, aku ingin meminta sesuatu yang lain.]
[Permintaan yang lain, maksudmu!?]
Hikaru mengangguk.
[Ya, aku pasti menempel padamu, jadi kuharap aku bisa mendapat bantuanmu]
Mata Hikaru tertuju pada Koremitsu seperti sebuah gravitasi yang kuat – seperti segalanya akan terhisap olehnya.
Pangeran Sekolah.
Koremitsu akhirnya mengerti kenapa semua orang di sekolah menjulukinya seperti itu, ini terlihat dari keagungannya. – aku bisa dimaafkan siapapun apapun yang keperbuat.
Koremitsu hampir saja setuju melakukan apapun yang diinginkannya setelah melihat senyum yang menawan itu.
Ini Buruk!
Dia tidak tahu kenapa, tapi instingnya dalam dirinya berbunyi.
Dia memiliki perasaan yang menjengkelkan bahwa dia akan terlibat dengan Hikaru jika ini tetap berlanjut. Kenyataan menyadarkannya seperti petir.
[Koremitsu! Sampai kapan kau akan bicara sendiri di kamar mandi!? Apa kau sudah berteman dengan kecoa!? Segera keluar jika sudah selesai!]
Koharu sekali lagi membuka pintu kaca dan berteriak.
[Oh, Ok.]
Koremitsu segera saja meraih ember untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
[….Dia berkata aku seekor kecoa?]
Hikaru termenung, terlihat kecewa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar