Chapter 1 Bukankah Kau sudah Mati?
Part 3
Pada akhirnya, Mikado tidak
pernah meminjam buku teks dariku, dan kita hanya berbicara satu kali.
Jalanan sangat gelap, dan
hujan menyebabkan pandangan Koremitsu menjadi kabur ketika dia pulang ke rumah.
Dia berpikir tentang situasi
Hikaru sejak saat dia meninggalkan tempat pemakaman.
Tidak ada sesuatu yang bisa
kulakukan...
Pertemuan mereka membawa
dampak besar pada Koremitsu, dan peristiwa di pemakaman memberi dampak lebih.
Tetap saja, Koremitsu tidak
memahami sama sekali tentang seorang yang bernama Hikaru Mikado. Koremitsu
masih teringat pada sikapnya, kesungguhannya dan senyumannya, itu semua menjadi
teka-teki.
Orang seperti apa Hikaru itu
sebenarnya?
Jika orang itu tidak mati, Jika dia masih
hidup...akankah dia benar-benar datang untuk meminjam buku teksku?
Dia akan membuka pintu kelas
dengan keras, memberikan senyuman yang cerah,
"Akagi-san! Aku lupa
buku teksku!"
Dan itu pasti diucapkan
dengan nada yang lembut,kupikir?
Gambaran ini sekilas
terlintas di pikiran Koremitsu, dan jauh dalam dirinya terbakar dengan sensasi
terpenjara. Mungkin ini adalah sedikit kesedihan yang dimilikinya untuk seorang
berusia 15 tahun yang hidupnya harus berakhir.
Hujan semakin deras.
Rumah kayu yang dibangun
kakeknya berada jauh dari pusat kota, sebuah tempat yang difungsikan sebagai
rumah kaligrafi. Ketika dia sampai, rambut merah acak-acakannya menempel di
kelopak mata dan telinganya.
Dia membuka pintu depan, dan
pintu masuk bibinya Kohaku sedang berdiri, membawa beberapa garam mentah.
[Koremitsu, berbalik ke
belakang!]
Dia menyuruhnya dengan
tegas.
Koharu biasanya berpakaian
jersey dengan lengan digulung dan kemeja, rambutnya terikat rapi kebelakang dengan
anggun. Seorang yang bercerai, dia pulang ke rumah dari pekerjaannya di tempat
belanja on-line di internet. Saat ini, Dia, Koremitsu dan dan kakeknya yang
tinggal bersama-sama.
Koremitsu mengikuti apa yang
dia katakan dan berbalik, dan kemudian, suara garam yang disebar padanya
terdengar.
Bukankah ini terlalu banyak
hanya untuk penyucian? apa kau ingin menjadikan ikan asin?!
Meski dia berpikir begitu,
dia tetap diam menyadari fakta bahwa kewenangan tertinggi di rumah ini sudah
berpindah dari kakeknya ke bibinya, dia memilih untuk tetap diam.
[Baiklah, berbalik sekali
lagi]
Dia berbalik, dan garam
dalam jumlah banyak berserakan di kakinya. Pakaiannya yang sudah basah
bercampur dengan butiran garam.
[Air di pemandian sudah
mendidih. Pergi mandi. Setelah selesai, makan malam,dan jangan keluyuran]
Dia berbicara dengan nada
yang maskulin.
Tiba-tiba, ada gelak tawa
dari belakang.
[Kakak Akagi-san terlihat
sangat garang dan menarik. Dan sepertinya di mirip denganmu]
Umm..?
ketika itu, dia menghentikan
langkahnya.
Ada apa ini?
Dia berpikir dia mendengar
suara yang tidak biasa disini..
Tidak, aku pasti salah
dengar.
Koremitsu pikir dia
kelelahan karena dia tidak terbiasa menghadiri upacara pemakaman. Mengambil
handuk yang disiapkan Koharu, dia menaruhkan di kepala dan menuju kamar mandi.
Setelah berendam di bak
mandi, badannya akan terasa nyaman, dan pikirannya menjadi jernih.
Dia melepaskan blazernya,
melepaskan kancing baju yang basah dan tidak nyaman, dia melepas celana panjangnya.
Pada saat dia membuka pintu
kaca kamar mandi, dia mendengar suara yang lembut sekali lagi.
[Heh.. kau terlihat
kurus, tapi otot-tot itu membuatmu terlihat berbeda dariku. suadah kuduga dari
raja berandalan]
aku bukan berandalan.
Tidak, sebelum menjawab,
siapa orang yang baru saja bicara padaku?
Suara kakeknya tidak semuda
ini, dan suaru ini terlalu lembut bagi Koharu.
[Jika aku bertelanjang
sekarang, kebanyakan dari mereka berkata bahwa aku cantik, seperti seorang
gadis dan memiliki kulit seputih susu dan sebagainya. Itu sangat menyakiti
kebanggaanku sebagai pria]
Suara itu terdengar memuji
penampilannya terdengar ditelinga Koremitsu.Suara lembut ini terdengar mirip
dengan suara laki-laki yang dia dengar ketika mereka bertemu di koridor
sekolah.
Meski begitu, laki-laki itu seharusnya sudah
mati beberapa hari yang lalu; Koremitsu menghadiri pemakamannya hari ini, dan
bahkan ikut membakar dupa.
[Lenganmu juga terlihat
ramping, tapi mereka sangat kokoh. Itu ukuran ideal yang kuinginkan.]
Bisakah halusinasi
berlangsung selama ini?
Suara itu terasa sangat
jelas, seperti terdengar dari atas kepalanya
tanpa sengaja, Koremitsu
menolehkan kepalanya ke arah suara itu, dan sesaat kemudian, berteriak.
[UWWAAAHHHHH!!!???]
bagaimana!? laki-laki dengan
wajah malaikat itu- memakai seragam sekolah! Hikaru Mikado!
Di langit-langit kamar
mandi! dikelilingi uap!
Dia melayang di udara!
[Uh huhh? apa kau bisa
melihatku disini , Akagi-san?]
Dengan kemungkinan yang
terjadi, tubuh Hikaru yang melayang bersorak.
Rambutnya, terlihat keemasan
dengan cahaya sebagaian menembus belahannya, terangkat angin sepoi-sepoi dan
bergerak lembut diatas kepala Hikaru yang kecil.
Koremitsu meraih ujung dari
bathtub, mulutnya masih menganga... dagunya seperti mau jatuh ke tanah. Hikaru
seketika melebarkan matanya melihat ke arahnya. Sosok Hikaru yang terlihat
seperti malaikat yang turun ke bumi bagi Koremitsu. Jika dia mengganti
seragamnya dengan kimono mandi, cahaya yang berkilauan dapat memberi efek yang
menyilaukan.
Koremitsu memandang mata Hikaru,
tergagap dalam ketidakpercayaannya pada semua ini.
[Bu...bukankah kau sudah
mati...?]
Tanpa pemberitahuan, bibinya
Koharu membuka pintu kaca dan berteriak
dalam kamar mandi.
[Ada apa Koremitsu!?Apa kau
jatuh dan kepalamu terbentur? jangan bilang kau harus dirawat di rumah sakit lagi!]
Di tangan kanannya memegang
pisau dapur, menunjukkan bahwa dia sedang mempersiapkan makan malam.
[Ko-Koharu...disitu...]
Koremitsu gemetaran sambil
menunjuk ke arah langit-langit.
Ada seorang hantu dengan
seragam sekolah melayang di depan mereka. Tidak diketahui apakah Hikaru
sebenarnya ramah atau dia hanya memperlakukan para gadis dengan lembut, ketika
dia menunjukkan senyuman pada Koharu.
Jika dia seorang gadis yang
masih remaja, dia pasti akan meleleh seperti mentega. Suaranya terdengar
jengkel dengan nada dipenuhi niat membunuh ketika dia menyangkal Koremitsu karena kegaduhan yang
disebabkannya.
[Hah!? Apa ada kecoa yang
menempel padamu? Kau bukan perempuan. Jangan berteriak-teriak karena sesuatu
yang kecil]
[Tidak bisakah kau lihat
itu!?]
[Jadi, Aku tidak bisa
melihat ada kecoa atau kelabang dari sini]
Bukankah ada seorang
laki-laki memakai seragam sekolah disana!?
Dia ingin memberitahukan
itu, tapi tidak jadi setelah melihat ekspresi Kohaku, mnunjukkan dia akan melayangkan
pisau dapur padanya tanpa ragu.
Koharu menutup pintu kaca
dan pergi.
[kau memiliki kakak
perempuan yang galak]
Hikaru menyadari fakta bahwa
senyumannya tidak efektif ketika mengatakan ini
Sementara itu, dalam pikiran
Koremitsu.
Tetap tenang...tetap
tenang...
Koremitsu terus
mengulang-ulang kata itu ketika dia mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya
sedang terjadi.
Hikaru Mikado, yang
seharusnya sudah mati, muncul di dalam kamar mandinya.
Dia mempunyai kaki, tapi
tubuhnya melayang di udara.
Dan Hikaru tak terlihat oleh
Koharu.
Koremitsu melihat ke arah
cermin di dinding kamar mandi, terlihat hanya bayangan dirinya yang sedang
telanjang di selimuti uap, dan melihat sekali lagi ke arah Hikaru.
Dia masih ada disitu.
Koremitsu sekali lagi
melihat ke cermin.
Rambut merah, laki-laki
kurus dengan tatapan yang tajam yang terlihat.
[Hi, Akagi-san]
Sebuah suara terdengar.
[!]
Koremitsu berbalik, melihat
Hikaru dibelakangnya seperti hewan peliharaan yang siap bekerja dengan penuh
gairah, dan dengan tenangnya berkata.
[Ini seperti yang kau duga,
Akagi-san. Aku memang sudah mati. Inilah kenapa aku merasa aku adalah seorang
hantu.]
Hikaru berhenti sejenak.
[Ya, ini pasti yang terjadi.
Aku tidak yakin apa artinya menjadi hantu, tapi aku merasa menjadi sesuati yang
lain. Aku merasa seperti mahluk fantasi dalam fiksi ilmiah, ini mungkin lebih
baik. Kau pasti merasa begitu juga, khan, Akagi-san]
Apa yang baik dari itu?
Bagaimana bisa kau yakin kau itu benar!? Seorang yang mati tiba-tiba muncul
dihadapan orang yang masih hidup seperti fantasi bagimu!? Ini sebuah kenyataan,
bukat imajinasi.
Koremitsu merasakan
kekesalan di hatinya, tapi tidak mengungkapkannya.
Hanya sekali waktu dia
percaya pada hantu adalah saat sebelum bersekolah – hasil dari ketidakdewasaan.
Sebagai tambahan, bayangan di cermin tidak menunjukkan keberadaan Hikaru.
Koremitsu terjerat dalam
konfik antara kewajaran dan yang dilihatnya.
[Sini, coba lihatlah]
Hikaru merentangkan
tangannya yang putih ramping menyentuh Koremitsu. Tanganya menembusnya, dan
kulit dan tulang menembus ke sisi yang lain.
Koremitsu menahan dengan
kuat untuk menjerit. Dia tidak ingin melihat tangan seseorang menembus dirinya.
Itu sangat tidak logis baginya. Dia merinding disekujur tubuhnya, seperti
dirayapi kelabang di punggungnya.
Koremitsu memegang dadanya,
menrik nafas dalam-dalam, dan berkata [M..Meskipun ini kenyataan, dan aku bukan
hantu, meski kau seorang hantu, kenapa kau harus muncul di kamar mandiku?]
Mereka bukan teman.
Mereka bahkan bukan teman
sekelas.
Mereka hanya berbicara satu
kali di Heian.
Hikaru menatap dengan penuh
perhatian pada Koremitsu.
[Ini tidak tiba-tiba. Aku
terus bersamamu di upacara pemakaman. Aku memanggilmu ‘Akagi-san’ pada saat
pemakaman, dan kau berbalik, ingat?]
Koremitsu terdiam mendengar
kata-kata Hikaru.
Itu memang benar bahwa aku
merasa seseorang memanggilku ketika aku pulang ke rumah. Jadi orang ini sudash
melayang diatas kepalaku sejak saat itu!? Mungkinkah dia mengikutiku ketika aku
pulang ke rumah!?
[Pada saat itu, aku mengira
jika aku menempel padamu, Akagi-san. Tentu saja, itu sebuah misteri]
[Oi! Kenapa aku? Apa yang
kulakukan sampai membuatmu dendam? Apa kau ingin menjadi ketua geng ke-27? Kau
ingin bertarung denganku karena aku melampaimu? Apa kau berbicara denganku di
koridor karena ini? Jika karena itu, aku akan memberikan posisi itu padamu. Kau
boleh memanggil dirimu apapun yang kau inginkan. Atau aku bisa menuliskannya di
batu nisanmu dengan pisau]
Dahi Koremitsu terihat tanda
silang menunjukkan kejengkelan. Hikaru tersenyum dengan lembut dan menjawab.
[Tidak sama sekali. Aku
tidak memiliki dendam padamu sama sekali.]
[Lalu kenapa?]
Koremitsu menatapnya, Hikaru
melirik dengan malu-malu.
[Bukankah kita memiliki
sebuah janji?]
[Huh?]
Koremitsu terbengong.
Janji apa?
[Aku ada sesuatu yang ingin
kutanyakan padamu ketika aku akan meminjam bukumu.]
Senyum menawan terlihat di
wajah Hikaru ketika menatap Koremitsu.
Koremitsu tidak
memperdulikan ketidaknyamanannya dan dia mendekatkan tubuhnya ke arah Hikaru.
[Hei, Apa yang ingin kau
tanyakan padaku?]
Bahkan sejak dia mendengar
kematian Hikaru, Koremitsu terus terganggu karena hal itu, seperti ada duri
yang menempel di tenggorokkannya.
Apa ada “sesuatu” yang
Hikaru ingin sampaikan padanya?
Hikaru meminta sesuatu
padanya, seseorang yang tidak dikenalnya, seseorang yang baru ditemuinya
pertama kali.
Hikaru memohon pada
Koremitsu, sesorang yang terkenal sebagai berandalan yang liar – seseorang yang
dijauhi orang lain.
Senyum Hikaru menghilang,
dan ekspresinya menjadi sedih. Dia memalingkan pandangannya dan terdiam akan
pertanyaan Koremitsu.
[….]
Hei, kenapa dia tidak
berkata apapun? Kenapa dia terlihat kecewa?
Koremitsu menjadi tidak
sabar dengan ekspresi Hikaru yang terlihat tenang.
Dia merasa keringat dingin
yang tidak nyaman ketika dia menunggu alasan dibalik kesunyian ini. Pada saat
itu, Hikaru melekuk bibirnya, dan tersenyum tipis.
[Tentang itu… lupakan saja]
Dia berkata dengan lembut.
[Huh!? Apa artinya itu!?]
Nada suara Koremitsu
tiba-tiba menjadi keras. Situasinya berkembang menjadi sesuatu yang Hikaru
takutkan, karena jawaban yang dinginkan Koremitsu tidak seperti yang
diharapkan.
[Jangan main-main denganku.
Kau sebaiknya mengatakan yang sebenarnya]
Koremitsu menjadi jengkel dan
Hikaru menepuk tangannya dan meminta maaf.
[Aku minta maaf. Sebenarnya,
aku pikir aku sedikit hilang ingatan ketika aku mati. Aku tidak bisa
mengingatnya sekarang]
Kau bercanda kan !?
Koremitsu menatapnya dengan
tajam, Hikaru hanya bisa tersenyum.
[Meski begitu, ini sangat
jarang memiliki janji, dan sebab kita bertemu lagi setelah kematianku, aku
ingin meminta sesuatu yang lain.]
[Permintaan yang lain,
maksudmu!?]
Hikaru mengangguk.
[Ya, aku pasti menempel
padamu, jadi kuharap aku bisa mendapat bantuanmu]
Mata Hikaru tertuju pada
Koremitsu seperti sebuah gravitasi yang kuat – seperti segalanya akan terhisap
olehnya.
Pangeran Sekolah.
Koremitsu akhirnya mengerti
kenapa semua orang di sekolah menjulukinya seperti itu, ini terlihat dari
keagungannya. – aku bisa dimaafkan siapapun apapun yang keperbuat.
Koremitsu hampir saja setuju
melakukan apapun yang diinginkannya setelah melihat senyum yang menawan itu.
Ini Buruk!
Dia tidak tahu kenapa, tapi
instingnya dalam dirinya berbunyi.
Dia memiliki perasaan yang
menjengkelkan bahwa dia akan terlibat dengan Hikaru jika ini tetap berlanjut.
Kenyataan menyadarkannya seperti petir.
[Koremitsu! Sampai kapan kau
akan bicara sendiri di kamar mandi!? Apa kau sudah berteman dengan kecoa!?
Segera keluar jika sudah selesai!]
Koharu sekali lagi membuka
pintu kaca dan berteriak.
[Oh, Ok.]
Koremitsu segera saja meraih
ember untuk menutupi tubuh bagian bawahnya.
[….Dia berkata aku seekor
kecoa?]
Hikaru termenung, terlihat
kecewa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar